Jakarta, Propertytime.id – Sampai dengan paruh pertama 2025, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung pembiayaan sektor residensial di Indonesia. Namun, di tengah pertumbuhan yang cukup stabil, risiko kredit dan tekanan struktural mulai mengemuka.
Data terbaru Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) sampai dengan paruh pertama 2025 menunjukkan bahwa porsi KPR dalam pembiayaan konsumen turun menjadi 70,68% atau terendah dalam dua tahun terakhir. Angka ini tercatat di bulan Maret 2025. Sebaliknya, proporsi pembelian rumah secara tunai bertahap meningkat ke 19,53%, menandakan perubahan perilaku konsumen dalam merespons suku bunga tinggi dan tekanan penghasilan.
SSKI yang diterbitkan setiap bulan oleh BI merupakan data/indikator yang menggambarkan perkembangan berbagai elemen ekonomi terkait sistem keuangan yang menjadi fokus kebijakan Makroprudensial/Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia.
Secara tahunan, pertumbuhan KPR untuk rumah tapak mencapai 8,15% yoy yang terjadi di bulan Mei 2025. KPR untuk rumah tipe >70 m² tumbuh 10,17%, sementara tipe 22–70 m² naik 7,95%. Namun, untuk hunian tipe kecil ≤21 m², pertumbuhan masih berada di zona negatif minus 4,79% yoy, mencerminkan stagnasi di pasar rumah sangat terjangkau.
BACA JUGA: Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Nilai Tukar Akibat Tekanan Global
Nilai total kredit pemilikan rumah tapak pada bulan Mei 2025 mencapai Rp745,81 triliun, dimana KPR tipe >70 m² menyumbang Rp233,99 triliun, dan tipe 22–70 m² mencapai Rp486,6 triliun. Sementara itu, KPR tipe kecil hanya menyentuh Rp25,21 triliun, angka yang relatif stagnan dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Di sisi lain, Non-Performing Loan (NPL) untuk KPR terus meningkat, dari 2,88% di Maret 2025 menjadi 3,11% di Mei 2025. Lonjakan tertinggi terjadi pada segmen rumah tipe kecil, dengan NPL menyentuh 5,28%, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara NPL KPR tipe menengah tercatat di 3,05%, dan tipe besar 3,00%. Tingginya NPL di segmen rumah kecil dan rusun mengindikasikan tekanan ekonomi di kelompok menengah ke bawah, yang menjadi pasar utama untuk hunian subsidi dan terjangkau.
Di sisi lain, kredit konstruksi perumahan tercatat Rp35,41 triliun di bulan Mei 2025, menyusut 7,34% yoy. Penurunan ini menegaskan bahwa pengembang cenderung menahan ekspansi proyek baru. Bahkan, di bulan Maret 2025, sebesar 77,28% pendanaan proyek berasal dari dana internal, dan hanya 16,62% dari perbankan, sisanya dari konsumen dan sumber lain. Fenomena ini mencerminkan strategi bertahan pelaku industri properti yang menghindari risiko leverage berlebih di tengah iklim suku bunga tinggi dan kepastian penjualan yang belum solid.





