Jakarta, Propertytimes.id – Kinerja sektor perhotelan di kuartal II 2025 mencerminkan perbedaan yang cukup mencolok antara dua destinasi utama Indonesia, yaitu Bali dan Jakarta. Bagaimana tidak, di saat hotel-hotel di Bali menikmati kenaikan okupansi berkat wisata domestik dan kembalinya penerbangan internasional, hotel di Jakarta justru masih bergulat dengan pemulihan yang belum merata.
Menurut Colliers Indonesia, Bali kembali menjadi magnet wisatawan sejak libur panjang Idulfitri awal April lalu. Tambahan rute penerbangan langsung dari negara seperti Tiongkok dan Australia, serta aktifnya kembali kegiatan pemerintahan lokal, memberi dampak positif terhadap tingkat hunian hotel di Pulau Dewata.
“Pasar Bali menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat dengan pergeseran preferensi wisatawan ke arah layanan yang lebih personal dan berkelanjutan,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia di Jakarta pekan lalu. Sebaliknya, sebut Ferry, Jakarta belum sepenuhnya bangkit dari tekanan.
BACA JUGA: Pariwisata Bali Masih Lesu, Vietnam Salip Indonesia Terkait Jumlah Wisman
Menurutnya, penurunan permintaan dari sektor pemerintahan masih jadi hambatan utama. Meskipun kegiatan bisnis dan event sudah mulai kembali, namun kontribusinya belum cukup untuk menutup kekosongan yang ditinggalkan segmen publik. “Pemulihan di Jakarta lebih lambat karena masih bergantung pada pola perjalanan dinas dan kegiatan MICE skala besar,” tambah Ferry.
Meski demikian, ada sinyal positif dari meningkatnya penyelenggaraan acara komunitas dan konser. Hotel-hotel yang berada di dekat lokasi event-event ini mulai mencatat kenaikan permintaan, meskipun dalam skala terbatas. Hal ini membuka ruang bagi strategi baru yang lebih terfokus pada pasar lokal, wisatawan independen, serta kelompok muda yang aktif di media sosial.
Menurut Colliers, diversifikasi produk dan segmentasi pelanggan menjadi hal penting. Sebab, hotel tidak lagi bisa hanya mengandalkan pelanggan korporat atau instansi. Mereka perlu menjajaki kerja sama dengan penyelenggara acara, pelaku ekonomi kreatif, hingga digital influencer untuk menarik arus kunjungan baru.
Inisiatif seperti penawaran bundling acara, diskon akhir pekan, hingga kampanye bertema lokal kini lebih relevan dibandingkan promosi konvensional. Inovasi dalam layanan, seperti fasilitas co-working space atau paket liburan singkat, juga dinilai efektif untuk menarik minat segmen baru.





