Property Times
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
No Result
View All Result
Property Times
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
Home Headline

Proyeksi Pasar Pintu dan Jendela uPVC Indonesia Capai USD 1,04 Miliar pada 2030

Redaksi by Redaksi
July 28, 2026
in Headline
0
Proyeksi Pasar Pintu dan Jendela uPVC Indonesia Capai USD 1,04 Miliar pada 2030

Ilustrasi produk uPVC

0
SHARES
62
VIEWS

Jakarta, Propertytimes.id – Industri material bangunan, khususnya sektor pintu dan jendela unplasticized polyvinyl chloride (uPVC) di Indonesia diproyeksikan mengalami akselerasi pertumbuhan dalam enam tahun ke depan. Melonjaknya volume dan nilai pasar tersebut seiring dengan stabilnya sektor konstruksi perumahan dan peningkatan standar spesifikasi bangunan.

Laporan analisis pasar strategis terbaru yang dirilis oleh lembaga riset Ken Research bertajuk “Indonesia uPVC Doors and Windows Market Outlook to 2030: Size, Share, Growth and Trends”, mencatat bahwa nilai pasar sektor ini mencapai USD 685 juta pada tahun 2024. Angka ini diproyeksikan akan menembus USD 1.045,4 juta pada tahun 2030, dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) sebesar 7,3 persen antara tahun 2025 dan 2030.

Proyeksi ini menunjukkan percepatan dari rekam jejak CAGR historis pasar yang berada di level 5,7 persen sepanjang periode 2019 hingga 2024. Volume pasar juga diestimasikan meningkat dari sekitar 9,2 juta unit pada 2024 menjadi 13,4 juta unit pada 2030.

Sejalan dengan pertumbuhan volume, harga jual rata-rata gabungan diproyeksikan naik dari USD 74,5 per unit menjadi USD 78,0 per unit. Kenaikan harga rata-rata ini merefleksikan tingginya penetrasi sistem penguncian yang lebih baik, peningkatan segel, penggunaan perangkat keras premium, serta konfigurasi jendela bernilai lebih tinggi.

Direktur Riset Ken Research, Namit Goel, menyatakan bahwa pasar pintu dan jendela uPVC Indonesia saat ini sedang bertransisi dari pertumbuhan yang dipimpin oleh pemulihan pascapandemi menuju ekspansi yang didorong oleh kualitas spesifikasi.

BACA JUGA: Tiga Juta Meter Kantor Jakarta Kosong, Pemilik Gedung Perlu Obral Fasilitas?

Goel menjelaskan bahwa konstruksi perumahan akan terus memberikan volume penjualan, namun peluang margin terkuat justru akan muncul dari pesanan perkuatan atau renovasi, paket perangkat keras yang lebih baik, kaca hemat energi, perolehan prospek digital, dan instalasi profesional.

Adapun, Pulau Jawa tercatat masih menjadi episentrum komersial dengan mendominasi sekitar 63 persen permintaan nasional pada tahun 2024. Dominasi ini didukung oleh tingginya konsentrasi pengembangan perumahan, klaster fabrikasi, ruang pamer distributor, jaringan dealer, serta hubungan yang kuat dengan para pengembang properti. Kendati demikian, ekspansi regional ke wilayah Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi mulai membuka koridor pertumbuhan baru bagi pemasok yang mampu mengelola logistik, kualitas fabrikasi, dan layanan purnajual secara terpusat.

Katalis Perumahan Subsidi dan Penjualan Digital

Program perumahan yang didukung pemerintah menjadi salah satu pendorong utama permintaan untuk paket pintu dan jendela uPVC terstandarisasi. Rencana pemerintah untuk membangun sekitar 3 juta rumah diyakini akan semakin memperkuat kepastian permintaan ke depan bagi para pemasok profil, perakit, dan penyedia perangkat keras.

Selain sektor proyek fisik, transformasi saluran penjualan juga menjadi sorotan. Meskipun penjualan daring hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total pendapatan pada tahun 2024, namun saluran digital dan akuisisi langsung ke konsumen diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 14,5 persen, sehingga menjadikannya saluran dengan skala pertumbuhan tercepat. Peningkatan tingkat akses internet di Indonesia turut memperluas jangkauan katalog daring, platform kutipan harga, alat desain, dan perolehan prospek melalui media sosial.

Di tengah prospek positif tersebut, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan operasional dan risiko kompetisi. Ketergantungan impor bahan baku cukup tinggi, tercermin dari impor resin PVC sebesar 84,9 juta kilogram pada 2024.

BACA JUGA: BI Catat Lonjakan Permintaan KPR dan KPA Triwulan II 2026

Hal ini memaparkan produsen pada risiko fluktuasi harga bahan baku, pergerakan nilai tukar, dan tarif angkutan. Selain itu, uPVC juga terus bersaing ketat dengan material aluminium yang kerap menjadi preferensi untuk proyek komersial dan residensial menengah ke atas karena profilnya yang ramping dan spesifikasi kontraktor yang sudah mapan.

Pasar uPVC Indonesia yang bernilai ratusan juta dolar ini dihuni oleh sekitar 120 pelaku usaha. Laporan Ken Research mengidentifikasi sejumlah pemain utama yang mendominasi lanskap kompetitif, di antaranya Vinyl Windows and Doors, IndoPVC, Aluplast, Rehau, Veka AG, EcoFrame Solutions, IndoVinyl Innovations, Duraflex Windows & Doors, GreenGuard uPVC Systems, dan ArchiPVC Designs. Perusahaan lokal tercatat menguasai sekitar 70 persen ekosistem pasar, sementara sisanya diisi oleh partisipan regional dan internasional.

Principal di Ken Research, Harsh Saxena, menekankan bahwa pertumbuhan permintaan pasar tidak secara otomatis berujung pada profitabilitas yang menarik tanpa adanya disiplin eksekusi. Ia menegaskan bahwa basis perumahan dan ekonomi konstruksi Indonesia yang terus berkembang memberikan fondasi yang kuat bagi industri pintu dan jendela uPVC, namun perusahaan yang akan menciptakan nilai terbesar adalah mereka yang mampu menggabungkan profil produk yang andal dengan fabrikasi yang disiplin, instalasi profesional, akuisisi digital yang kuat, serta layanan purnajual yang responsif.

Karena itu, untuk menavigasi dinamika pasar hingga 2030, pelaku industri direkomendasikan untuk menerapkan prioritas strategis yang mencakup pembangunan portofolio produk multi-tingkat, digitalisasi proses akuisisi pelanggan, standardisasi teknik fabrikasi dan instalasi, ekspansi yang terukur di luar Pulau Jawa, serta fokus pada penjualan nilai siklus hidup produk untuk menghindari perang harga pada segmen komoditas dasar.

Tags: bahan bangunanindustri manufakturinvestasi propertiKen ResearchKonstruksi Perumahanpasar uPVC Indonesiapintu dan jendela uPVCProperti Indonesia
Previous Post

Tiga Juta Meter Kantor Jakarta Kosong, Pemilik Gedung Perlu Obral Fasilitas?

Terpopuler

  • Curhatan Salah Satu Debitur BTN: Ketika Restrukturisasi KPR Malah Jadi Masalah Baru

    Curhatan Salah Satu Debitur BTN: Ketika Restrukturisasi KPR Malah Jadi Masalah Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tatar Bungawari, Manifestasi Wellness dan Kematangan 25 Tahun Kota Baru Parahyangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Tol Bogor-Serpong (via Parung) Segera Dimulai, Pacu Pertumbuhan Ekonomi Koridor Barat Bogor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Sektor Properti Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bapak Real Estate Indonesia Itu Berpulang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
PT Leksana Komunikasi Media

Redaksi, Komunikasi, Pemasaran dan Riset :
Email : redaksi@propertytimes.id redaksi.propertytimes@gmail.com marketing@propertytimes.id

MENU

  • Figure
  • Q&A
  • Brokerages
  • E-Magazine
  • Pedoman Media Cyber
  • Redaksi
  • About
  • Privacy Policy
  • Trademarks
  • Terms of Service

©2018 - 2026 Propertytimes.id

No Result
View All Result
  • Figure
  • Q&A
  • Brokerages
  • E-Magazine
  • Pedoman Media Cyber
  • Redaksi
  • About
  • Privacy Policy
  • Trademarks
  • Terms of Service

©2018 - 2026 Propertytimes.id