Jakarta, Propertytimes.id – Permintaan kredit properti melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) mencatatkan lonjakan signifikan pada triwulan II 2026. Berdasarkan Survei Perbankan yang dirilis oleh Bank Indonesia, Senin (20/7) mencatat peningkatan permintaan sektor perumahan tersebut menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan Kredit Konsumsi secara keseluruhan.
Kenaikan permintaan KPR dan KPA pada triwulan II 2026 tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang mencapai 78,20 persen. Angka ini meningkat drastis dibandingkan triwulan sebelumnya dan menempatkan sektor properti pemukiman sebagai pendorong tertinggi di kategori kredit konsumsi, melampaui Kredit Multiguna (SBT 69,71 persen), Kredit Kendaraan Bermotor (SBT 67,95 persen), Kredit Tanpa Agunan (SBT 49,70 persen), dan Kartu Kredit (SBT 30,18 persen).
Secara keseluruhan, penyaluran kredit baru oleh perbankan nasional pada triwulan II 2026 berada pada tren yang sangat kuat dengan nilai SBT total sebesar 93,08 persen, melesat tajam dari SBT 38,74 persen pada triwulan I 2026. Pertumbuhan kredit baru ini tercatat terjadi pada seluruh jenis penggunaan, termasuk Kredit Modal Kerja (SBT 94,34 persen) dan Kredit Investasi (SBT 93,51 persen).
BACA JUGA: BI Rate Naik Dua Kali Sebulan, Beban Cicilan KPR Berpotensi Meningkat
Meski permintaan KPR/KPA dan kredit baru meningkat pesat, perbankan terpantau menerapkan kebijakan penyaluran kredit yang sedikit lebih berhati-hati pada triwulan II 2026. Hal tersebut ditunjukkan oleh Indeks Lending Standard (ILS) yang bernilai positif sebesar 1,03. Pengetatan standar penyaluran kredit secara umum tecermin dari penyesuaian suku bunga kredit, plafon kredit, persetujuan perjanjian, hingga jangka waktu pembiayaan.
Prospek pembiayaan sektor properti diperkirakan tetap cerah pada triwulan III 2026. Bank Indonesia memprakirakan penyaluran KPR/KPA masih menjadi salah satu prioritas utama perbankan dalam segmen kredit konsumsi, tepat di bawah Kredit Multiguna. Selain itu, secara umum penyaluran kredit baru diproyeksikan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 84,65 persen.
Dukungan terhadap pembiayaan perumahan diperkirakan makin menguat pada triwulan III 2026 seiring dengan proyeksi pelonggaran standar penyaluran kredit oleh perbankan, yang ditunjukkan oleh indikasi ILS bernilai negatif sebesar 2,25. Kelonggaran kebijakan perbankan pada triwulan mendatang diperkirakan terutama terjadi pada aspek penyesuaian plafon kredit dan persyaratan agunan, yang berpotensi makin mempermudah akses pembiayaan properti bagi masyarakat.




