Jakarta, Propertytimes.id – Pasar teknologi informasi dan komunikasi (ICT) Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pesat dalam sembilan tahun mendatang. Laporan riset pasar terbaru yang diterbitkan IMARC Group menunjukkan, nilai pasar ICT Indonesia pada 2024 telah mencapai US$43,8 miliar atau setara sekitar Rp657 triliun. Angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga US$164,1 miliar atau sekitar Rp2.461 triliun pada 2033, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 14,6 persen sepanjang periode 2025–2033.
Sebagai catatan, IMARC Group adalah perusahaan konsultan manajemen global yang menyediakan layanan riset pasar, studi kelayakan, strategi masuk pasar, analisis kompetitif, serta dukungan ekspansi bisnis di berbagai sektor industri.
Dilansir dari laman openpr.com, Selasa (2/9), menyebutkan adopsi digital yang semakin masif di Indonesia telah mendorong pertumbuhan ini. Seiring ekspansi ekonomi, berbagai sektor seperti e-commerce, fintech, komputasi awan (cloud computing), hingga Internet of Things (IoT) semakin mengandalkan solusi digital. Tak hanya itu, dukungan pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur digital, termasuk perluasan konektivitas broadband dan pengembangan smart city, turut mempercepat transformasi tersebut.
Kontribusi besar juga datang dari usaha kecil dan menengah (UKM) yang memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas. Termasuk, generasi muda yang melek teknologi sehingga menciptakan permintaan tinggi terhadap layanan inovatif, mendorong perusahaan mengadopsi kecerdasan buatan (AI), big data analytics, hingga otomatisasi agar tetap kompetitif.
Begitupun, sebut IMARC, tantangan tetap ada. Kesenjangan digital, terutama akses internet di daerah pedesaan dan lemahnya kebijakan keamanan siber, masih menjadi hambatan. Karena itu, IMARC menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dan dukungan regulasi, termasuk dalam pengembangan blockchain, pendanaan modal ventura untuk inovasi, serta adopsi produk ICT baru.
Tren lain yang menonjol adalah meningkatnya fokus pada teknologi hijau dan berkelanjutan. Perusahaan kini banyak mengintegrasikan strategi ramah lingkungan, seperti penggunaan pusat data hemat energi dan infrastruktur telekomunikasi berbasis energi terbarukan. Sektor keuangan digital juga terus berkembang, ditopang reformasi regulasi layanan keuangan dan peralihan masyarakat ke solusi nontunai seperti mobile banking serta dompet digital.
Selain itu, implementasi ICT juga mendorong transformasi di sektor pendidikan dan kesehatan, terutama dalam memperluas akses layanan ke daerah terpencil. Kolaborasi antara startup, korporasi, dan pemerintah semakin menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal.
“Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju ekonomi digital besar di Asia Tenggara. Pertemuan antara 5G, AI, dan IoT akan menciptakan peluang baru, meski peningkatan literasi digital dan pemerataan infrastruktur tetap menjadi syarat utama,” tulis laporan tersebut.
Dengan potensi pasar mencapai lebih dari Rp2.400 triliun pada 2033, sektor ICT diperkirakan akan menjadi tulang punggung transformasi digital Indonesia, sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di era ekonomi berbasis teknologi.





