Kuala Lumpur, Propertytimes.id – Lebih dari 80 persen pembeli rumah dari kalangan Gen Z di Malaysia memilih hunian vertikal berupa kondominium dan apartemen. Fenomena ini berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya yang cenderung masih menyukai rumah tapak. Temuan tersebut berasal dari riset terbaru perusahaan teknologi properti Juwai IQI.
Studi yang menganalisis lebih dari 127.000 transaksi properti ini menunjukkan adanya jurang preferensi lintas generasi yang kini tengah membentuk ulang pasar perumahan Malaysia. “Gen Z membeli langit, sementara Milenial dan Gen X tetap berpijak di tanah,” ujar Co-Founder sekaligus Group CEO Juwai IQI, Kashif Ansari, dikutip dari Business Today Malaysia, Senin (1/9).
Di kalangan Gen Z berusia 15 hingga 29 tahun, sebanyak 84 persen transaksi merupakan unit kondominium dan apartemen, sedangkan hanya 16 persen berupa rumah tapak. Sementara itu, kelompok Milenial berusia 30 hingga 44 tahun serta Gen X yang berusia 45 hingga 59 tahun masih relatif seimbang dengan sekitar seperempat transaksi untuk rumah tapak, baik tipe teras, rumah kopel, maupun rumah tunggal.
BACA JUGA: Jumlah Orang Kaya Bertambah, Permintaan Properti Mewah di Malaysia Melonjak
Tren kembali berubah pada pembeli usia lanjut. Lebih dari 90 persen pembeli berusia di atas 80 tahun, biasa disebut kelompok “Builders”, memilih unit apartemen yang mencerminkan kebutuhan akan hunian yang lebih kecil dan mudah dirawat. Kalangan Boomer berusia 60 hingga 80 tahun pun semakin banyak beralih ke kondominium dengan tingkat pembelian mencapai 77 persen.
Ansari menekankan bahwa faktor gaya hidup dan keterjangkauan menjadi pendorong utama pergeseran ini. Hunian vertikal biasanya lebih dekat dengan kantor, transportasi, dan fasilitas umum. Harganya juga relatif lebih terjangkau, mudah dirawat, serta dilengkapi dengan fasilitas seperti pusat kebugaran, kolam renang, hingga sistem keamanan, suatu hal yang sangat dihargai generasi muda.
Meski terjadi pergeseran preferensi di kalangan pembeli muda, rumah tapak masih mendominasi pasar secara nasional. Berdasarkan data National Property Information Centre (NAPIC), Malaysia memiliki sekitar 64,7 juta unit hunian pada 2024, dengan komposisi 69 persen rumah tapak dan 31 persen hunian vertikal. Dari sisi transaksi tahun lalu, rumah tapak juga masih menguasai 79 persen.
“Bagi banyak keluarga, rumah tapak biasanya menjadi pembelian kedua atau ketiga. Hunian ini tetap bernilai tinggi karena memberikan privasi dan ruang lebih luas ketika keluarga berkembang,” tutur Ansari.
Juwai IQI menilai ketidakseimbangan antara permintaan tinggi untuk unit vertikal dengan keterbatasan pasokan menciptakan peluang baru bagi pengembang. Perusahaan tersebut kini bekerja sama dengan pelaku industri untuk merancang lebih banyak proyek hunian vertikal yang menyasar kalangan lajang, pasangan muda, dan keluarga kecil, sekaligus tetap menyediakan rumah tapak bagi rumah tangga besar serta pembeli berpenghasilan tinggi.
“Setiap generasi punya preferensi masing-masing. Dengan memahami dan merespons kebutuhan tersebut, Malaysia dapat memastikan pasar perumahannya tetap inklusif, berkelanjutan, dan sesuai dengan dinamika masyarakat,” pungkas Ansari.





