Jakarta, Propertytimes.id – Sektor pariwisata dalam negeri menunjukkan tren penguatan signifikan menjelang rangkaian libur panjang pada bulan Mei 2026. Data terbaru dari platform hotel commerce global, SiteMinder, mengungkapkan bahwa wisatawan domestik kini menjadi motor utama penggerak okupansi hotel di tanah air dengan kontribusi yang melampaui separuh dari total pemesanan nasional.
Lonjakan ini dipicu oleh akumulasi hari libur nasional, mulai dari Hari Buruh Internasional hingga Idul Adha, yang mendorong masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata. Sepanjang Maret tahun ini, kontribusi tamu domestik tercatat mencapai 52 persen, naik empat poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren ini mengonfirmasi pola pertumbuhan konsisten sejak 2024, di mana pasar lokal semakin memprioritaskan destinasi regional sebagai alternatif berlibur.
Lombok muncul sebagai destinasi dengan pertumbuhan pemesanan tertinggi, yakni sebesar 7,5 persen jika dibandingkan dengan periode Lebaran tahun lalu. Angka ini diikuti oleh Yogyakarta dan Bandung yang masing-masing mencatatkan kenaikan di atas 6,5 persen, jauh melampaui pertumbuhan nasional yang rata-rata berada pada level 2,6 persen. Sementara itu, tingkat permintaan di Bali terpantau relatif stabil dengan pertumbuhan tipis 0,1 persen, menunjukkan basis pasar yang sudah matang.
BACA JUGA: Trend Hotel 2025: Wisatawan Domestik Dominasi Pasar, Tingkat Pembatalan Terendah di Dunia
Selain volume pemesanan, perilaku wisatawan dalam merencanakan perjalanan juga mengalami pergeseran. Jarak waktu pemesanan atau lead time terpantau semakin pendek, di mana rata-rata nasional turun menjadi 15 hari. Fenomena pemesanan mendadak paling terlihat di Bandung dengan rata-rata durasi pemesanan hanya delapan hari sebelum kedatangan. Di Lombok, penurunan lead time mencapai 16 persen secara tahunan, menandakan karakter wisatawan yang kini lebih fleksibel dan responsif terhadap peluang liburan singkat.
Country Manager SiteMinder Indonesia, Fifin Prapmasari, menuturkan, bahwa perkembangan ini mencerminkan perubahan preferensi masyarakat yang mulai memadukan nilai kebersamaan keluarga dengan keinginan mencari pengalaman baru, seperti staycation di dekat rumah. “Fleksibilitas pemesanan ini menuntut pengelola hotel untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi pendapatan dan paket penawaran yang menarik,” sebut Fifin dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Yang menarik, di tengah peningkatan volume, rata-rata tarif harian (ADR) hotel di tingkat nasional justru mengalami koreksi sebesar 3,3 persen menjadi Rp1,71 juta. Penurunan tarif paling tajam terjadi di Bali yang mencapai 7,4 persen. Sementara, Bandung sebaliknya menunjukkan anomali dengan menjadi satu-satunya destinasi utama yang mencatatkan kenaikan tarif sebesar 2,5 persen atau Rp955.000 per malam.





