Jakarta, Propertytimes.id – Perkembangan pasar properti logistik di wilayah Jabodetabek atau Greater Jakarta terus menunjukkan tren pertumbuhan positif dalam 3 bulan pertama tahun 2026. Laporan Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 menyebutkan, tingkat hunian gudang modern telah menyentuh angka 95,8 persen pada kuartal pertama 2026.
Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi global, sekaligus menjadi sinyal bagi para pelaku usaha mengenai semakin menipisnya ketersediaan ruang penyimpanan berkualitas di lokasi strategis.
Kepala Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa sektor logistik tetap mencatatkan kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan banyak segmen properti lainnya. Menurut Ferry, peran krusial sektor ini dalam menunjang distribusi domestik serta kompleksitas rantai pasok nasional menjadi pendorong utama keberlanjutan permintaan.
“Dengan ketersediaan lahan dan pasokan baru yang relatif terbatas, tingkat hunian di wilayah ini diperkirakan akan terus merangkak naik hingga mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2026,” ujar Ferry dalam keterangannya, Senin (27/4).
BACA JUGA: Ekspansi Brand Asing Dorong Penyerapan Ruang Ritel di Jakarta
Koridor Timur Mendominasi
Dalam laporannya Colliers mencatat, dominasi aktivitas logistik sejauh ini masih terpusat di koridor timur Jakarta yang menyumbang sekitar 72,8 persen dari total pasokan gudang modern. Keunggulan infrastruktur yang mapan, kedekatan dengan kawasan industri, serta akses langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok menjadikan wilayah ini sebagai primadona bagi pengembang dan penyewa. “Hingga periode ini, total pasokan kumulatif gudang modern di Jakarta Raya tercatat mencapai kisaran 3 juta meter persegi,” tulis Colliers.
Namun begitu, pertumbuhan pasokan baru ke depan diprediksi akan mengalami perlambatan dikarenakan para pengembang cenderung bersikap lebih hati-hati dan selektif dalam melakukan ekspansi, dengan estimasi tambahan ruang rata-rata hanya sekitar 186.000 meter persegi per tahun selama periode 2026 hingga 2029. Hal tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para penyewa karena ketimpangan antara permintaan yang terus tumbuh dengan penambahan fasilitas baru yang melambat.
Dari sisi permintaan juga terjadi pergeseran profil penyewa yang semakin beragam. Jika sebelumnya pasar didominasi oleh penyedia logistik pihak ketiga (3PL) dan pelaku niaga elektronik atau e-commerce, kini sektor barang konsumsi (FMCG), elektronik, hingga farmasi mulai menunjukkan minat yang tinggi. Bahkan, industri baru seperti produsen kendaraan listrik dan energi terbarukan mulai melirik fasilitas logistik modern sebagai bagian dari strategi rantai pasok mereka.
BACA JUGA: Survei Perbankan BI: Bank Lebih Selektif Salurkan Kredit, Sektor Properti Tetap Stabil
Fenomena ini mencerminkan adanya perubahan struktural dalam pola konsumsi nasional dan penguatan posisi Indonesia sebagai negara dengan nilai transaksi e-commerce terbesar di antara negara “tiger cub” Asia Tenggara. Kondisi tersebut secara langsung mendorong kebutuhan akan pusat distribusi, fulfillment center, serta fasilitas last-mile yang lebih dekat dengan kawasan konsumsi utama guna efisiensi pengiriman.
Tak hanya itu, untuk menyikapi prospek pasar yang positif namun terbatas secara kapasitas, Collier berharap para pengembang dapat memprioritaskan pembangunan fasilitas dengan spesifikasi teknis tinggi. Di sisi lain, Colliers Indonesia menyarankan agar para pengguna jasa logistik segera mengamankan ruang sewa di lokasi-lokasi primer lebih awal untuk menghindari kesulitan mendapatkan lahan di masa mendatang seiring dengan ketersediaan yang semakin kritis.





