Jakarta, Propertytimes.id – Pasar apartemen di Jakarta mencatatkan pergerakan yang cenderung stagnan pada awal tahun 2026. Laporan Jakarta Property Market Insight Q1 2026 dari Leads Property Services Indonesia menunjukkan bahwa pengembang masih bersikap hati-hati dalam meluncurkan proyek baru akibat permintaan pasar yang belum pulih sepenuhnya.
Hingga kuartal pertama tahun ini, total pasokan kondominium di Jakarta bertahan di angka 259.900 unit. Kondisi nihilnya pasokan baru ini telah berlangsung selama lima kuartal berturut-turut. Meski demikian, pasar diperkirakan baru akan melihat perubahan pasokan pada paruh kedua tahun 2026 melalui rencana peluncuran Menara Eluna di Casa Grande Residence, Jakarta Selatan.
Dari sisi permintaan, akumulasi unit terjual mengalami peningkatan sangat tipis sebesar 0,1 persen, atau setara dengan penyerapan bersih sebanyak 202 unit. Hal ini membuat total permintaan mencapai 216.268 unit dengan tingkat penjualan rata-rata berada di angka 83,2 persen. Penjualan saat ini lebih banyak didorong oleh segmen kelas atas, terutama di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.
Menurut laporan Leads, melambatnya penjualan ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara ekspektasi harga dan luas unit yang diinginkan konsumen. “Terlebih, saat ini, banyak calon pembeli, khususnya dari kalangan milenial dan Gen Z, lebih memilih rumah tapak di daerah pinggiran kota yang menawarkan harga dan ukuran yang dianggap lebih kompetitif,” ungkap Martin Hutapea, Associate Director Leads Property Indonesia, Senin (27/4) lalu.
Martin mengatakan, meski penjualan melambat, namun harga jual rata-rata kondominium di Jakarta tetap mengalami apresiasi nilai modal sebesar 0,5 persen secara kuartalan. Menurut catatan Leads, saat ini, harga rata-rata di pasar mencapai Rp28,10 juta per meter persegi. Sementara, di kawasan pusat bisnis (CBD), harga tercatat stabil di angka Rp59,06 juta per meter persegi. Adapun di area utama (prime area) berada di kisaran Rp49,20 juta per meter persegi.
Melihat kondisi pasar yang masih menantang, sebut Martin, pembangunan proyek kondominium baru dinilai masih berisiko tinggi untuk tahun ini. Karena itu, menurutnya para investor disarankan untuk lebih fokus pada strategi pengelolaan portofolio, seperti membeli unit yang belum terjual dalam jumlah besar (bulk units) untuk dioperasikan sebagai aset pendapatan rutin ketimbang memulai pengembangan baru.





