Jakarta, Propertytimes.id – Industri perhotelan Indonesia mencatatkan rekam jejak positif sepanjang tahun 2025 dengan penguatan signifikan pada segmen pasar lokal. Data terbaru dari SiteMinder mengungkapkan, bahwa tahun ini menjadi momentum pertumbuhan kembali bagi perjalanan domestik di Indonesia yang tercermin dari angka pemesanan hotel. Berdasarkan laporan SiteMinder’s Hotel Booking Trends yang disusun dari 130 juta pemesanan, pangsa tamu domestik yang melakukan check-in di properti hotel Indonesia mencapai 48 persen.
Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 5,6 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menempatkan Indonesia di posisi kedua dengan pertumbuhan domestik tertinggi di dunia setelah Kanada. Di sisi lain, pangsa tamu internasional terkoreksi tipis menjadi 52 persen, sehingga menciptakan keseimbangan baru antara permintaan pasar lokal dan mancanegara.
BACA JUGA: SiteMinder : Wisatawan Indonesia Paling Royal untuk Hotel Ramah Lingkungan
Efisiensi Operasional: Tingkat Pembatalan Terendah di Dunia
Perubahan pola pemesanan ini sejalan dengan lonjakan pariwisata domestik yang tumbuh 19 persen secara tahunan. Menariknya, stabilitas pemesanan di Indonesia sangat solid dengan tingkat pembatalan yang hanya sebesar 11,38 persen sekaligus merupakan angka terendah di level global.
Namun, hotel kini harus beradaptasi dengan rentang waktu pemesanan (lead time) yang semakin pendek, yakni rata-rata 19 hari atau berkurang 7 persen dari periode sebelumnya. Durasi ini jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 32 hari.
Country Manager SiteMinder Indonesia, Fifin Prapmasari, menjelaskan bahwa kombinasi antara rendahnya pembatalan dan durasi pemesanan yang singkat mencerminkan antusiasme tinggi wisatawan lokal. Kondisi ini membuka peluang bagi pengelola hotel untuk menerapkan strategi harga berbasis kebutuhan dan inovasi penawaran fasilitas yang lebih spesifik. Wisatawan domestik kini menjadi kekuatan signifikan yang harus dikelola setara dengan tamu internasional yang selama ini mendominasi pasar.
Meskipun bulan Juli dan Agustus tetap menjadi periode tersibuk, laporan ini mencatat distribusi permintaan yang lebih merata di pertengahan tahun. Porsi pemesanan pada bulan Agustus sedikit menurun menjadi 9,31 persen, sementara Juni dan Juli justru mengalami kenaikan tipis.
Fenomena menarik terjadi pada awal tahun, di mana bulan Januari mencatatkan pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 15 persen. Lonjakan ini dipicu oleh masa libur Tahun Baru yang diperpanjang serta momentum perayaan Imlek yang jatuh lebih awal.
Distribusi yang lebih seimbang ini menunjukkan bahwa wisatawan semakin strategis dalam merencanakan perjalanan untuk menghindari kerumunan dan mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Fifin menambahkan bahwa hotel tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan pemasaran yang statis. Pelaku industri dituntut untuk tetap responsif terhadap munculnya permintaan baru di luar siklus musiman tradisional agar dapat mengoptimalkan pendapatan sepanjang tahun.
Dominasi Kanal Pemesanan
Laporan SiteMinder juga merilis 12 platform yang menyumbang pendapatan terbesar bagi hotel di Indonesia. Peringkat pertama hingga ketiga secara berurutan ditempati oleh Booking.com, Expedia Group, dan Agoda.
Posisi selanjutnya diisi oleh pemesanan langsung melalui situs resmi hotel (Website Hotel), diikuti oleh Traveloka pada peringkat kelima dan Trip.com di posisi keenam. Kanal lainnya yang masuk dalam daftar adalah Hotelbeds, Tiket.com, Luxury Escapes, MG Bedbank, Airbnb, serta DidaTravel. Keberhasilan platform lokal seperti Traveloka dan Tiket.com dalam mempertahankan posisi mereka menunjukkan betapa kuatnya pengaruh narasi perjalanan domestik terhadap industri perhotelan.
Sementara itu, melesatnya posisi Trip.com ke peringkat tertinggi sepanjang sejarahnya di Indonesia menjadi indikator kuat kembalinya arus wisatawan asal Tiongkok. Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa adaptabilitas terhadap kanal distribusi digital menjadi kunci utama bagi hotel untuk memenangkan persaingan di pasar Indonesia yang semakin dinamis.





