Jakarta, Propertytimes.id – Harga rumah di Jakarta ternyata lebih mahal dibanding New York dan beberapa kota lainnya di Jepang, meski biaya hidup di negara-negara tersebut lebih tinggi dibanding Jakarta. Komparasi ini sendiri berdasarkan rasio perhitungan harga rumah terhadap pendapatan (income) menurut riset World Bank Time To Act 2019 yang dikutip Jakarta Property Institute.
Mahalnya harga rumah di Jakarta, menurut Executive Director Jakarta Property Institute Wendy Haryanto, adalah karena satu di antaranya birokrasi yang rumit dan berbelit. “Ongkos birokrasi tinggi ini yang menyebabkan harga rumah demikian mahal dan terus naik,” kata Wendy dalam konferensi virtual, Kamis (9/7/2020), sebagaimana dilansir kontan.co.id.
Berdasarakan data tersebut, Kota Jakarta menduduki peringkat ke 11 (rasio 10,3), sedangkan New York peringkat ke 14 (rasio 5,7), Yokohama-Jepang peringkat ke 16 (rasio 4,8). Sementara peringkat pertama diraih kota Shenzhen, Tiongkok dengan rasio 19,8.
Dirinya juga menjelaskan, ongkos birokrasi tersbeut mencakup proses perizinan seperti izin mendirikan bangunan (IMB) dan rendahnya peringkat kemudahan berbisnis (ease of doing business). Selain itu, pengembangan yang diizinkan membangun juga masih mengalami sejumlah pembatasan, terutama dalam hal memperluas atau menambah koefisien lantai bangunan (KLB) yang belum berubah mengikuti dinamika aktual dan kebutuhan pasar.
“Jika para pengembang ingin memenuhi kebutuhan pasar dengan membangun properti tertentu, mereka harus membayar kompensasi dengan harga tinggi,” imbuh Wendy. SA