Jakarta, Propertytimes.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa penyaluran kredit baru secara keseluruhan pada triwulan IV 2025 mengalami peningkatan signifikan. Dilansir dari keterangan resmi BI, Kamis (22/1), pertumbuhan ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru yang mencapai 88,92%, melonjak dari 82,33% pada triwulan sebelumnya.
Di tengah tren positif tersebut, sektor properti melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) menunjukkan kinerja yang relatif stabil dengan nilai SBT sebesar 48,00% pada penutup tahun 2025.
Stabilitas di sektor properti ini didorong oleh kebijakan standar penyaluran kredit yang terindikasi lebih longgar dibandingkan triwulan III 2025. Indeks Lending Standard (ILS) pada triwulan IV 2025 berada di zona negatif sebesar -2,59, yang menandakan pelonggaran kebijakan oleh pihak perbankan.
Pelonggaran ini mencakup aspek-aspek krusial bagi calon debitur properti, seperti penurunan suku bunga kredit, jangka waktu kredit yang lebih fleksibel, serta biaya persetujuan kredit yang lebih rendah.Memasuki triwulan I 2026, perbankan diprakirakan akan tetap menempatkan KPR/KPA sebagai prioritas utama dalam kategori kredit konsumsi.
BACA JUGA: Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate di Level 4,75 Persen
Meskipun demikian, BI memberikan catatan bahwa standar penyaluran kredit pada awal tahun depan akan cenderung lebih berhati-hati dengan proyeksi nilai ILS yang meningkat menjadi 2,75. Pengetatan ini diprediksi akan menyasar aspek persyaratan administrasi dan agunan guna menjaga kualitas aset perbankan.Secara makro, optimisme perbankan terhadap pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 tetap terjaga.
Outstanding kredit pada tahun 2026 diproyeksikan mampu tumbuh sebesar 9,79% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun 2025 yang tercatat sebesar 9,69% (yoy). Kondisi moneter yang stabil serta prospek ekonomi yang positif diyakini akan terus menopang minat masyarakat terhadap pembiayaan properti, meskipun perbankan mulai menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih tinggi di awal tahun.





