Jakarta, Propertytimes.id – Sektor ritel di Jakarta menunjukkan ketangguhan sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan harga sewa sebesar 2,6 persen secara tahunan. Berdasarkan laporan konsultan properti JLL, kenaikan ini didorong oleh kuatnya angka kunjungan serta ekspansi masif dari peritel gaya hidup dan fesyen di berbagai pusat perbelanjaan utama.
Mengutip data dari realestateasia.com, Rabu (12/3), kenaikan sewa pada kuartal keempat (Q4) 2025 saja mencapai 0,8 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Meski ada kenaikan tipis, harga sewa di lokasi-lokasi prima terpantau tetap stabil. Para pemilik gedung cenderung berhati-hati dalam melakukan penyesuaian harga demi menjaga performa penyewa dan stabilitas pasar.
Momentum libur akhir tahun seperti Halloween, Natal, dan Tahun Baru menjadi katalis penting yang meningkatkan aktivitas pameran serta volume pengunjung. Kondisi ini mempertebal kepercayaan diri pengelola mal, meskipun tidak tercatat adanya transaksi investasi ritel baru selama periode Oktober hingga Desember tersebut.
BACA JUGA: 86% Konsumen Asia Tenggara Belanja di Mall Online
Sepanjang kuartal terakhir tahun lalu, permintaan ruang ritel tetap didominasi oleh sektor gaya hidup dan fesyen, melanjutkan tren ekspansi sektor makanan dan minuman (F&B) yang sudah dimulai sejak awal tahun. Beberapa merek internasional baru tercatat mulai menancapkan kuku di Jakarta, di antaranya Abercrombie & Fitch, Sanfu, Christy NG, hingga jaringan kuliner seperti BHC Chicken dan Sparkora BBQ.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah rencana pembukaan kembali gerai ZARA di Plaza Indonesia yang diproyeksikan menjadi toko terbesar merek tersebut di tanah air. Selain itu, fenomena demam matcha yang melanda masyarakat juga turut mewarnai aktivitas promosi dan acara-acara tematik di berbagai pusat belanja sepanjang kuartal tersebut.
Di sisi lain, pasar ritel Jakarta menghadapi keterbatasan pasokan ruang baru. Tidak ada mal kategori prima yang baru beroperasi pada Q4 2025, yang menyebabkan tingkat kekosongan atau vacancy rate tertahan di angka 4 persen. Keterbatasan stok ini memicu persaingan ketat antar-peritel untuk mengamankan lokasi strategis di pusat perbelanjaan yang sudah mapan.
Memasuki tahun 2026, permintaan ruang ritel diprediksi akan terus merangkak naik. Kehadiran merek-merek internasional baru diperkirakan masih akan mengalir, dengan sektor F&B tetap menjadi motor utama dalam aktivitas penyewaan. Dengan belum adanya tambahan pasokan mal baru yang signifikan dalam waktu dekat, tingkat hunian di lokasi-lokasi premium diprediksi akan tetap terjaga di level yang tinggi.





