Jakarta, Propertytimes.id – Emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) tengah menempuh langkah strategis untuk merestrukturisasi kewajiban finansialnya. Melalui anak perusahaan luar negerinya, Modernland Overseas Pte. Ltd. (MLO), perseroan mengajukan permohonan moratorium kepada Pengadilan Tinggi Singapura.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang dilansir pada Kamis (30/4/2026), permohonan tersebut diajukan pada 29 April 2026. Langkah ini ditujukan kepada para pemegang Guaranteed Senior Notes yang akan jatuh tempo pada 30 April 2027.
Melalui permohonan tersebut, MLO mengajukan permohonan kepada Pengadilan Tinggi Singapura untuk memperoleh suatu perintah (order), antara lain, menangguhkan tindakan hukum, gugatan, proses likuidasi, penunjukan receiver/manager, eksekusi, serta tindakan penegakan hak lainnya terhadap MLO selama enam bulan ke depan. Saat ini, status moratorium tersebut telah berlaku efektif selama 30 hari sejak tanggal pengajuan, atau akan berakhir hingga adanya putusan resmi dari Pengadilan Tinggi Singapura.
BACA JUGA: Modernland Realty Lakukan Restrukturisasi Utang Obligasi Jatuh Tempo 2025
Langkah permohonan moratorium ini diambil sebagai tindak lanjut dari diskusi yang sedang berlangsung antara perseroan dengan para pemegang surat utang tersebut. Adapun, Modernland Realty menargetkan penyelesaian kewajiban Senior Notes 2027 dilakukan melalui proses scheme of arrangement atau skema pengaturan dengan jangka waktu implementasi hingga 6 bulan terhitung sejak tanggal permohonan moratoria (atau sampai terdapat perintah lebih lanjut dari pengadilan).
Manajemen menegaskan bahwa kondisi ini belum memberikan dampak material yang mengganggu jalannya perusahaan secara keseluruhan. Hingga saat ini, kegiatan operasional, kondisi keuangan, serta kelangsungan usaha perseroan dilaporkan masih berjalan normal tanpa kendala hukum yang berarti di dalam negeri.
Manajemen berkomitmen untuk terus menyampaikan perkembangan material lebih lanjut terkait proses restrukturisasi ini sesuai dengan regulasi pasar modal yang berlaku. Upaya ini dipandang sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga stabilitas struktur permodalan dan memastikan keberlanjutan bisnis sektor real estat, konstruksi, dan pengelolaan klub golf yang dikelolanya.





