Propertytimes.id – Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan bahwa permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) mengalami perlambatan pada triwulan II 2025. Penurunan ini menjadi pendorong utama moderasi pada Kredit Konsumsi secara keseluruhan. Tercatat, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk permintaan KPR/KPA berada pada level 53,26% pada triwulan II 2025 , lebih rendah dibandingkan SBT Kredit Konsumsi pada triwulan I 2025 yang mencapai 59,25%.
Diketahui, Kredit Konsumsi (SBT 57,76%) terindikasi sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan I 2025 dengan SBT 59,25%. Kredit Konsumsi yang termoderasi disebabkan dari perlambatan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dengan SBT 53,26% dan Kredit Multiguna (SBT 26,40%)
Sejalan dengan perlambatan permintaan, Bank Indonesia mencatat adanya kebijakan standar penyaluran kredit yang lebih berhati-hati pada triwulan II 2025. Indeks Lending Standard (ILS) yang positif sebesar 0,08 mencerminkan sikap kehati-hatian ini. Khusus untuk KPR/KPA, bersama dengan Kredit UMKM dan Kredit Modal Kerja, standar penyaluran diindikasikan lebih ketat. Aspek-aspek kebijakan yang diperketat meliputi plafon kredit, premi kredit berisiko, agunan, dan persyaratan administrasi.
BACA JUGA: Tren Pembiayaan Perumahan 2025, KPR Melambat Risiko Kredit Menguat
Meski terjadi perlambatan dan pengetatan kebijakan di kuartal kedua, prospek KPR/KPA untuk triwulan III 2025 menunjukkan tanda-tanda yang berbeda. Dalam jenis kredit konsumsi, penyaluran KPR/KPA diproyeksikan akan tetap menjadi prioritas utama, diikuti oleh Kredit Multiguna dan Kredit Tanpa Agunan. Selain itu, standar penyaluran Kredit Konsumsi dan KPR/KPA diperkirakan akan relatif lebih longgar pada triwulan III 2025 , meskipun kebijakan penyaluran secara keseluruhan diprakirakan relatif sama dengan triwulan sebelumnya dengan ILS sebesar 0,02.
Secara keseluruhan, hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2025 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, meski lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun 2024. Hal ini tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru triwulan II 2025 sebesar 85,22%, lebih tinggi dari 55,07% pada triwulan I 2025 meski lebih rendah dari SBT 89,11% pada triwulan II 2024. Pertumbuhan permintaan kredit baru tersebut didorong oleh Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi. Selanjutnya, pada triwulan III 2025, penyaluran kredit baru diprakirakan tetap tumbuh dengan nilai SBT prakiraan penyaluran kredit baru sebesar 81,71%.





