Cikarang, Propertytimes.id – Pengembang properti PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) berhasil membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3), perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,52 triliun atau melonjak 133 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan ini utamanya didorong oleh percepatan serah terima unit rumah tapak dan apartemen yang tumbuh hingga 369 persen. Selain hunian, kontribusi pendapatan juga ditopang oleh penyerahan unit komersial (ruko), penjualan lahan industri, serta pendapatan dari segmen pengelolaan kota yang mencapai Rp474,5 miliar.
Dari sisi operasional, perseroan berhasil merealisasikan nilai pra-penjualan atau marketing sales sebesar Rp1,65 triliun hingga akhir Desember 2025. Angka tersebut setara dengan 100 persen dari target yang telah ditetapkan untuk tahun tersebut. Penjualan rumah tapak tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi sebesar 58 persen terhadap total pra-penjualan, diikuti unit komersial sebesar 38 persen, dan lahan industri 4 persen.
BACA JUGA: Laba Lipat Tiga Lippo Cikarang Tancap Gas di Kuartal I 2025
Sepanjang tahun 2025, LPCK tercatat memasarkan sebanyak 1.486 unit properti. Penjualan ini didukung oleh peluncuran sejumlah produk baru yang direspons positif oleh pasar, seperti residensial The Allegra @Casa De Lago dan produk komersial Neo Top.
Direktur PT Lippo Cikarang Tbk, Indryanarum, dalam keterangannya menyatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan kepercayaan pasar terhadap produk perseroan. Ia menegaskan komitmen perusahaan untuk terus fokus pada penyelesaian pembangunan tepat waktu serta memastikan proses serah terima berjalan sesuai jadwal yang telah dijanjikan kepada konsumen.
Hingga akhir Desember 2025, perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp783 miliar dengan margin laba kotor di level 17 persen. Sementara itu, EBITDA perseroan tercatat tetap positif sebesar Rp381,3 miliar dengan margin 8 persen terhadap total pendapatan. Capaian ini diklaim sebagai hasil dari upaya efisiensi operasional di tengah meningkatnya aktivitas bisnis perusahaan dalam pengembangan kawasan kota mandiri





