Singapura, Propertytimes.id – Harga rumah baru yang dibangun sektor swasta di Singapura menunjukkan perlambatan sepanjang 2025. Berdasarkan estimasi dari Otoritas Pembangunan Kembali Perkotaan Singapura (Urban Redevelopment Authority/URA), harga rumah baru naik 3,4 persen pada 2025 atau lebih rendah dibandingkan kenaikan pada tahun sebelumnya yang mencapai 3,9 persen.
Sebagaimana dilansir dari laman portal Mingtiandi, Jumat (2/1/2026), melambatnya kenaikan harga ini mencerminkan dampak kebijakan pemerintah Singapura yang agresif menambah pasokan perumahan baru, sehingga kompetisi antar pembeli mulai mereda di negara kota yang memiliki keterbatasan lahan tersebut.
URA mencatat, perlambatan harga terutama terjadi pada segmen rumah privat baru, tidak termasuk hunian eksekutif (executive condominium) yang bersifat hibrida antara publik dan swasta. Kondisi ini didukung oleh turunnya suku bunga serta besarnya pasokan unit baru hasil lonjakan penjualan lahan dalam dua tahun terakhir.
BACA JUGA: Dubai, New York, dan Singapura Jadi Kota Terbaik Dunia bagi Kalangan Kaya Raya
Sepanjang 2024, pengembang memperoleh lahan yang berpotensi menghasilkan 11.110 unit rumah sekaligus menjadi pasokan rumah baru terbesar sejak 2013. Sementara itu, pada 2025, pengembang diperkirakan berhasil menjual hingga 11.000 unit rumah privat, tertinggi sejak 2021 dan melonjak 66 persen dibandingkan realisasi penjualan pada 2024, menurut estimasi konsultan properti Huttons Asia.
“Pasar properti menutup tahun dengan kondisi yang cukup solid, dengan kenaikan harga sebesar 3,4 persen,” ujar Chief Executive Officer Huttons Asia, Mark Yip, dalam pernyataan resminya. Ia menilai tekanan harga telah jauh mereda dibandingkan puncaknya pada 2021. “Tekanan harga telah turun signifikan dari 10,6 persen pada 2021 menjadi 3,4 persen pada 2025. Ini menjadi sinyal jelas bahwa pasar telah stabil setelah beberapa kali penyesuaian kebijakan pemerintah,” kata Yip.
Selain pasokan yang melimpah, potensi lonjakan permintaan juga tertahan oleh rencana URA untuk melepas penjualan lahan baru pada paruh pertama 2026. Program tersebut diperkirakan menghasilkan jumlah unit rumah baru terbesar untuk periode enam bulan sejak 2017, sehingga mengurangi rasa urgensi calon pembeli untuk segera masuk pasar.
Sepanjang 2025, pengembang meluncurkan sekitar 11.500 unit rumah baru ke pasar atau meningkat lebih dari 42 persen dibandingkan 6.647 unit yang diluncurkan pada 2024. Sebagai perbandingan, pada 2023 jumlah peluncuran tercatat sebanyak 6.421 unit. Meningkatnya pasokan ini merupakan respons pemerintah Singapura terhadap lonjakan harga rumah pada 2021 dan 2022, masing-masing sebesar 13,3 persen dan 8,6 persen, yang memicu kekhawatiran terhadap keterjangkauan hunian.
Kenaikan harga 3,4 persen pada 2025 juga menjadi yang paling rendah sejak masa pandemi pada 2020. Sebelumnya, harga rumah privat sempat naik 6,8 persen pada 2023 sebelum melambat menjadi 3,9 persen pada 2024. Pada kuartal IV-2025, harga rumah baru hanya meningkat 0,7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, jauh di bawah kenaikan 2,3 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan harga kuartalan terbesar sepanjang 2025 terjadi pada periode Juli hingga September, ketika indeks harga URA naik 0,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Memasuki 2026, analis memperkirakan pasar properti Singapura akan memasuki fase yang lebih baik.
Huttons memperkirakan pengembang akan meluncurkan sekitar 11.317 unit rumah baru tahun ini atau setara dengan pasokan pada 2025, dimana 59 persen dari peluncuran tersebut berada di kawasan pinggiran kota atau Outside Central Region (OCR), yang umumnya menawarkan harga lebih terjangkau. Propertytimes.id | Mingtiandi





