Jakarta, Propertytimes.id – Pasar barang mewah global kembali mencatat penurunan jumlah konsumen. Sepanjang 2025, sekitar 20 juta pelanggan meninggalkan pasar personal luxury goods, sehingga jumlah konsumen aktif secara global turun menjadi sekitar 330 juta orang.
Berdasarkan laporan Bain–Altagamma Luxury Goods Worldwide Market Study yang dilansir dari laman Retail Asia, Selasa (6/1), penurunan ini menandai tahun kedua berturut-turut menyusutnya basis konsumen industri barang mewah global. Jumlah konsumen aktif tersebut jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya sekitar 400 juta orang pada 2022, dan setara dengan ukuran pasar pada 2013.
Laporan tersebut mencatat bahwa tingkat konversi konsumen potensial juga melemah. Pada 2025, hanya sekitar 40% hingga 45% konsumen potensial yang melakukan pembelian barang mewah atau turun dari sekitar 60% pada 2022.
BACA JUGA: Laku Rp260 Miliar Saat Soft Launch, Soultan Island Jadi Primadona Baru Hunian Ultra-Mewah di Bekasi
Di tingkat merek, kinerja akuisisi pelanggan baru juga ikut tertekan. Data menunjukkan perolehan klien baru menurun sekitar 5% dibandingkan 2024, mencerminkan tantangan industri dalam menarik konsumen baru di tengah kenaikan harga dan pelemahan sentimen.
Meski demikian, segmen konsumen berpenghasilan tinggi masih menunjukkan ketahanan. Pelanggan yang membelanjakan lebih dari US$23.374 atau setara sekitar Rp391 juta per tahun untuk produk mewah tetap mempertahankan tingkat belanja mereka. Kontribusi segmen ini terhadap total penjualan global bahkan meningkat menjadi lebih dari 46% pada 2025, naik dari sekitar 30% dari tahun 2019.
Bain-Altagamma menilai kontraksi pasar terutama dipicu oleh kelompok konsumen aspiratif, yang terdampak kenaikan harga signifikan sejak 2019. Di sisi lain, sentimen konsumen melemah seiring menurunnya diferensiasi antar merek.
Sekitar 70% konsumen menyatakan tidak puas terhadap pengalaman berbelanja di toko fisik, sementara 90% responden menilai pengalaman pelanggan antar merek mewah relatif seragam. Di tengah tekanan tersebut, merek yang melakukan pembaruan kepemimpinan kreatif pada 2025 tercatat memiliki tingkat keterlibatan konsumen yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kreativitas dan pembaruan produk masih menjadi penopang daya tarik industri.
Dari sisi demografi, kontribusi generasi milenial terhadap total belanja barang mewah mencapai sekitar 46% pada 2025, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Generasi Z menunjukkan pertumbuhan yang selektif, terbukti beberapa merek mampu menarik minat kelompok ini meski ekspektasinya lebih kompleks.
Laporan tersebut juga menyebutkan, ke depan merek barang mewah perlu memperkuat kualitas produk, strategi harga yang lebih jelas, serta meningkatkan relevansi budaya untuk memulihkan kepercayaan konsumen. Selain itu, investasi pada personalisasi dan penguatan hubungan dengan pelanggan dinilai penting untuk mendorong pemulihan pasar ke depannya.





