Surbaya, Propertytimes.id – Aktivitas di sektor kawasan industri Surabaya dan sekitarnya mengalami perlambatan volume transaksi sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan Colliers Indonesia yang dilansir awal Januari 2026 lalu, kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama yaitu keterbatasan pasokan lahan siap bangun dan ketidakpastian kondisi ekonomi global yang membuat investor bersikap menunggu (wait-and-see).
Laporan tersebut mencatat bahwa tidak ada tambahan pasokan lahan industri maupun gudang modern yang signifikan di wilayah Surabaya dan sekitarnya pada tahun 2025. Hal ini secara otomatis membatasi ruang bagi ekspansi industri baru dalam skala besar. Akibatnya, permintaan lahan bergerak lebih lambat jika dibandingkan dengan periode tahun 2024. Terlebih, sejumlah investor global juga cenderung menahan diri akibat pengaruh ketidakpastian kebijakan tarif internasional dan gejolak ekonomi eksternal.
Diketahui, sektor industri di wilayah Jawa Timur saat ini masih didominasi oleh industri petrokimia dan industri berat. Gresik menjadi wilayah dengan pasokan lahan terbesar yang mencakup 42 persen dari total pasokan di Surabaya Raya, diikuti oleh Pasuruan (17 persen) dan Sidoarjo (15 persen).
Meski permintaan lahan industri besar melemah, minat pasar justru bergeser ke industri yang lebih ringan dan fleksibel. Salah satu tren yang menonjol adalah tingginya minat terhadap bangunan pabrik standar (Standard Factory Building/SFB) dan plot lahan berukuran kecil. Produk ini menjadi pilihan utama bagi pelaku industri skala kecil dan menengah yang membutuhkan kecepatan operasional tanpa harus melalui proses konstruksi lahan yang panjang.
Di sisi lain, sektor pergudangan modern mencatatkan kinerja yang cukup baik dengan tingkat hunian yang mendekati kapasitas penuh, didorong oleh aktivitas sewa yang meningkat tipis. Mengenai harga, Colliers melaporkan adanya kenaikan harga lahan yang didorong oleh faktor inflasi, meskipun peningkatannya cenderung terbatas.
Adapun,wilayah Surabaya Selatan yang meliputi Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto tetap memegang predikat sebagai area dengan harga lahan tertinggi dibandingkan wilayah Barat atau penyangga lainnya yang meliputi Gresik dan Tuban. Ke depan, ketersediaan infrastruktur dan kepastian regulasi lahan akan menjadi kunci untuk menarik kembali minat investor di tengah tantangan ekonomi global.





