Kairo, PropertyTimes.id — Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, mulai memberi dampak terhadap sektor ekonomi Mesir, termasuk pasar properti. Meski permintaan akan hunian meningkat karena properti dianggap sebagai safe haven asset, pengembang dan pelaku industri tetap mewaspadai risiko lonjakan biaya konstruksi serta potensi gangguan rantai pasok.
Mengutip laporan Daily News Egypt, Ketua Kamar Pengembang Real Estat di Federasi Industri Mesir, Tarek Shoukry, menyatakan bahwa harga material bangunan kini menjadi faktor krusial dalam menentukan kelayakan proyek properti di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. “Ancaman penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan, yang pada akhirnya berdampak langsung ke biaya pembangunan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari Daily News Egypt, Minggu (22/6) lalu.
Menariknya, sejumlah pengembang di Mesir kini mengubah arah strategi mereka. Menurut CEO IGI Developments, Sherif Mostafa, perusahaan-perusahaan properti harus meninggalkan pendekatan yang hanya berfokus pada pencapaian angka penjualan tinggi. “Kesuksesan tak lagi dilihat dari volume transaksi, tetapi dari kemampuan menyelesaikan proyek tepat waktu dan dengan kualitas yang dijanjikan,” katanya.
BACA JUGA: Orang Super Kaya Singapura Serbu Properti Mewah Dubai
Shoukry pun menyarankan agar pengembang mengadopsi strategi penjualan konservatif: melepas unit secara bertahap sambil mengelola eksekusi proyek dengan hati-hati. Ini bertujuan agar mereka tidak terjebak dalam skenario biaya membengkak secara tiba-tiba, yang berisiko menunda serah terima dan mengganggu arus kas.
Sebelumnya, menanggapi potensi dampak luas dari konflik Israel-Iran terhadap perekonomian, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly telah membentuk komite krisis nasional. Komite ini bertugas memantau perkembangan lintas sektor, termasuk properti, konstruksi, dan pasokan energi, untuk menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Kebijakan ini muncul setelah pasar keuangan Mesir menunjukkan pelemahan. Nilai tukar pound terhadap dolar menurun, indeks saham tertekan, dan tekanan fiskal meningkat akibat kenaikan harga minyak global.
Sementara itu, CEO Tatweer Misr, Ahmed Shalaby, mengungkapkan bahwa walaupun krisis ini membawa tekanan biaya, properti tetap menjadi pilihan investasi utama di masa ketidakpastian. “Permintaan saat ini justru meningkat melampaui proyeksi. Namun, tantangannya adalah bagaimana kami bisa memenuhi permintaan itu tanpa terganggu oleh biaya yang melonjak,” ucapnya.
Shalaby mengingatkan bahwa risiko terbesar saat ini adalah perbedaan antara harga jual saat ini dan biaya aktual pembangunan yang terus naik. “Kami melakukan lindung nilai (hedging), tetapi eskalasi konflik bisa mengubah semua asumsi,” imbuhnya.
Hal senada dikemukakan CEO SODIC, Ayman Amer, yang menyatakan bahwa pasokan bahan bangunan, baik dari sisi kuantitas maupun harga dapat menjadi titik krusial dalam menjaga kelangsungan proyek. “Jika konflik berlangsung lama, ketersediaan bahan seperti semen dan baja bisa terganggu,” katanya.
Managing Director Winvestor Developments, Hesham Ibrahim, menyoroti bahwa harga semen telah naik 15% dan harga baja melonjak hampir 18% dalam dua bulan terakhir. Ia menekankan pentingnya beralih ke material lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. “Kini saatnya memprioritaskan produk dalam negeri seperti aluminium dan cladding sebagai bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang,” ujarnya.
Outlook 2025: Waspada tapi Optimis
Menurut analis industri, pasar properti Mesir menunjukkan ketangguhan struktural berkat tingginya permintaan domestik, kebijakan makro yang stabil, serta pengalaman menghadapi krisis dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sebagaimana disampaikan oleh Ashraf Diaa dari A SQUARED Consultants, sektor ini tetap harus bersikap hati-hati. “Pengembang perlu meninjau ulang jadwal serah terima, mengutamakan arus kas stabil, dan menunda ekspansi agresif,” katanya.
Pasar properti Mesir diperkirakan akan terus menunjukkan pertumbuhan, asalkan ketegangan geopolitik tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan. Untuk saat ini, strategi konservatif dan fokus pada penyelesaian proyek menjadi kunci menjaga kepercayaan investor dan konsumen.





