Jakarta, Propertytimes.id – Dinamika pasar properti di Jakarta dan sekitarnya pada kuartal kedua tahun 2026 menunjukkan sikap hati-hati oleh para pelaku usaha karena dibayangi oleh tantangan makroekonomi domestik. Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang direspons oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menuntut para pelaku industri untuk melakukan adaptasi strategi secara cepat.
CEO PT Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, mengatakan bahwa kondisi ekonomi dalam negeri saat ini menempatkan sektor properti Indonesia dalam status moda bertahan atau survival mode. “Situasi ini terjadi karena kenaikan suku bunga acuan secara tidak langsung berpotensi mengerek suku bunga kredit pemilikan rumah dan apartemen, serta meningkatkan beban biaya pinjaman korporasi bagi para pengembang yang sedang menjalankan proyek konstruksi sehingga berdampak pada daya beli masyarakat menurun karena memilih wait and see,” ujar Hendra, dalam acara diskusi eksklusif bertajuk “Tren Kantor Masa Depan & Menyikapi Pelemahan Rupiah: Peluang dan Tantangan” di Halo Space, IDX Building, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Tak hanya itu, menurut Hendra, pelemahan mata uang juga memicu lonjakan biaya material bangunan impor dan komponen mekanikal-elektrikal, sehingga mempersempit margin keuntungan di tengah daya beli pasar yang cenderung menahan diri untuk melakukan investasi jangka panjang.
BACA JUGA: BI Rate Naik 25 bps Jadi 5,75%
Selain menekan pasar domestik, Hendra menambahkan bahwa ketidakpastian situasi ekonomi dalam negeri ini turut mengubah preferensi para investor global yang ingin masuk ke Indonesia. Menurut dia, saat ini banyak investor asing yang lebih memilih opsi menyewa dibandingkan dengan langsung membeli lahan atau aset properti.
Sebagai contoh, sejumlah pelaku usaha asing yang berencana hendak menanamkan modal di Indonesia untuk tahap awal lebih memilih menyewa hunian bagi ekspatriat mereka sembari memantau perkembangan kondisi makroekonomi nasional. “Kecenderungan yang sama juga terlihat di sektor logistik, di mana para pemodal asing lebih memprioritaskan opsi menyewa bangunan gudang siap pakai untuk kebutuhan jangka pendek daripada membeli lahan industri baru yang membutuhkan komitmen modal lebih besar,” pungkas Hendra.




