Jakarta, Propertytimes.id – Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan bahwa penyaluran kredit baru pada triwulan I-2026 tetap bertumbuh meskipun cenderung melambat dibandingkan periode akhir tahun sebelumnya. Kondisi ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang atau SBT penyaluran kredit baru yang berada pada level 38,74 persen, atau lebih rendah dari capaian triwulan IV-2025 sebesar 88,92 persen.
Secara sektoral, industri properti menunjukkan performa yang cukup kuat di tengah perlambatan pertumbuhan kredit secara umum. Merujuk data survei perbankan BI, penyaluran kredit baru pada sektor real estat, usaha persewaan, dan jasa perusahaan tercatat meningkat dengan nilai SBT mencapai 56,70 persen. Meski begitu, untuk kategori kredit konsumsi, jenis Kredit Pemilikan Rumah atau KPR dan Kredit Pemilikan Apartemen atau KPA justru melambat dengan nilai SBT sebesar 42,33 persen.
BACA JUGA: Kabar Baik buat Pejuang KPR, OJK Hapus Kredit di Bawah Rp1 Juta dari Skor SLIK
Pihak perbankan diketahui mulai menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih hati-hati pada awal tahun ini. Hal tersebut ditunjukkan oleh Indeks Lending Standard atau ILS yang bernilai positif sebesar 0,15, atau berbanding terbalik dengan kondisi pada triwulan sebelumnya yang bernilai negatif. Kebijakan yang lebih ketat ini terutama menyasar aspek persyaratan administrasi serta pengetatan jangka waktu kredit.
Memasuki triwulan II-2026, optimisme terhadap industri properti diprediksi akan kembali menguat seiring dengan rencana perbankan untuk melonggarkan kebijakan penyaluran kredit. Bank Indonesia memprakirakan nilai ILS akan bergerak ke zona negatif di level 2,88 yang menandakan standar penyaluran kredit yang lebih longgar.
Faktor utama pelonggaran ini mencakup penyesuaian pada aspek suku bunga kredit, plafon pinjaman, serta persyaratan agunan. Responden dalam survei tersebut juga menempatkan penyaluran KPR dan KPA sebagai prioritas utama dalam kategori kredit konsumsi untuk periode April hingga Juni mendatang.
Secara keseluruhan, para pelaku industri perbankan tetap meyakini bahwa pertumbuhan kredit akan tetap positif hingga akhir tahun 2026 mendatang. Optimisme ini didasari atas terjaganya risiko penyaluran kredit serta prospek kondisi ekonomi dan moneter domestik yang dinilai tetap kondusif.





