Jakarta, Propertytimes.id – Bagi Sari (45)– bukan nama sebenarnya, perubahan terbesar pada warung soto mi miliknya di bilangan Blok M bukan pada cat bangunan yang mentereng, melainkan pada kotak kecil di samping stoples kerupuk. Di sana, sebuah papan kode QRIS berlogo Bank Jakarta berdiri tegak.
Sari mengenang, beberapa tahun lalu jika pengunjung lagi ramai, laci mejanya selalu penuh sesak oleh uang kembalian yang lecek bahkan ada yang sobek saat uang koin mulai habis. Namun, sekarang, pengalaman itu mulai jarang ia rasakan.
“Paling terasa kalau pagi. Dulu saya harus repot keliling cari tukaran uang kecil ke warung sebelah. Sekarang pembeli tinggal pindai, uangnya langsung masuk ke rekening. Warung kecil begini jadi kelihatan rapi dan modern,” kata Sari sambil tersenyum.
Apa yang dialami Sari merupakan potret kecil dari perubahan cara warga Jakarta bertransaksi. Pergeseran dari uang tunai menuju pembayaran digital inilah yang menjadi salah satu fondasi penting ketika Jakarta menata diri sebagai kota global.
Bagi sebagian masyarakat, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mungkin hanya dipahami sebagai gambar kotak hitam putih yang ditempel di meja kasir. Padahal sistem pembayaran berbasis QRIS memungkinkan seluruh aplikasi pembayaran yang telah mendapat izin Bank Indonesia digunakan melalui satu kode yang sama. Artinya, pembeli tidak lagi bergantung pada uang tunai atau aplikasi tertentu. Cukup memindai kode menggunakan aplikasi mobile banking maupun dompet digital, transaksi dapat selesai dalam hitungan detik.
Keuntungan lain yang sering luput dipahami masyarakat adalah keamanan transaksi. Setiap pembayaran tercatat secara otomatis sehingga pedagang tidak perlu lagi menghitung uang tunai satu per satu ataupun khawatir menerima uang palsu. Rekam transaksi tersebut juga dapat menjadi catatan keuangan sederhana yang berguna ketika pelaku usaha ingin mengajukan pembiayaan kepada lembaga keuangan.
“Transaksi QRIS Jakarta saat ini sudah mencapai 38 persen dari transaksi nasional. Dan itu berkat kerja sama antara Bank Indonesia, OJK, mendorong seluruh pasar-pasar yang ada di Jakarta,” ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung saat membuka Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Pramono, seluruh 153 pasar yang dikelola Pemprov DKI Jakarta kini telah menggunakan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Selain itu, sekitar 422.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jakarta juga telah memanfaatkan transaksi digital dalam menjalankan usahanya.
Menyambung Jaringan ke Luar Batas
Transformasi pembayaran digital melalui QRIS hanyalah satu bagian dari perubahan yang telah dibangun Bank Jakarta sejak beberapa tahun terakhir. Namun, di balik kemudahan bertransaksi di warung makan, pasar tradisional, hingga gerai UMKM, terdapat agenda yang lebih besar, yakni menyiapkan sistem keuangan Jakarta agar semakin terhubung dengan jaringan ekonomi global.
Di titik inilah Bank Jakarta mengambil peran berikutnya. Bukan sekadar sebagai tempat menyimpan uang, melainkan sebagai mesin penggerak yang menghubungkan teknologi modern dengan hajat hidup orang banyak.
Bisa dimaklumi, dalam kondisi aktual, salah satu syarat agar sebuah kota dapat sejajar dengan kota-kota megapolitan dunia adalah memiliki sistem keuangan yang cepat, aman, dan terbuka. Bukan tak mungkin, pertumbuhan ekonomi akan mandek jika transaksi warganya masih terisolasi di dalam negeri.
Sadar akan tantangan ini, Bank Jakarta mengambil langkah besar pada awal tahun 2026. Bersama jajaran pemerintah daerah dan manajemen Visa Indonesia, Bank Jakarta resmi meluncurkan Kartu Debit Visa dalam varian Classic dan Platinum, termasuk pilihan berbasis syariah.
Dilengkapi teknologi chip EMV untuk menangkal risiko skimming serta proteksi 3D Secure untuk belanja daring, kartu ini seketika membuka akses bagi nasabah daerah untuk bertransaksi di jutaan mesin ATM dan merchant di seluruh dunia. Langkah ini bukan sekadar urusan menambah fitur produk, melainkan langkah taktis membangun kepercayaan masyarakat.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yang hadir meresmikan peluncuran tersebut menegaskan pentingnya momentum ini. “Kalau kepercayaan publik sudah bisa dibangun, bank ini akan terbang tinggi. Kolaborasi dengan Visa adalah salah satu jalan pintas yang tepat untuk menumbuhkan rasa percaya itu,” ujarnya.
Melalui kartu debit global ini, Bank Jakarta sekaligus mendobrak anggapan lama bahwa teknologi keuangan tingkat lanjut hanya milik bank-bank swasta raksasa. Dan, terbukti, jika instrumen berskala internasional itu kini ada di dompet sebagian warga Jakarta, sekaligus memperkuat posisi finansial bank yang kini mengelola aset di atas Rp90 triliun tersebut.
Masuk ke Tengah Komunitas Urban
Yang menarik, meskipun kapasitas teknologinya mulai tersambung ke jaringan global, Bank Jakarta memilih untuk tetap membumi. Bank dengan status BUMD ini haqqulyaqin, jika literasi keuangan yang efektif tidak akan berhasil jika hanya disampaikan melalui brosur kaku atau seminar di hotel mewah. Menyadari hal itu, manajemen memilih masuk ke ruang-ruang tempat warga menghabiskan waktu dan menyalurkan kegemaran mereka, salah satunya lewat arena olahraga.





