Pada pertengahan Februari 2026 lalu, misalnya. Bank Jakarta resmi mengumumkan kerja sama sponsorship dengan tim bola basket legendaris, Pelita Jaya Jakarta, untuk mengarungi kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) 2026. Langkah ini memperluas jejak dukungan olahraga mereka setelah sebelumnya konsisten menyokong klub sepak bola Persija Jakarta.
Uniknya, pada setiap pertandingan kandang Pelita Jaya, Bank Jakarta tidak hanya memajang logo di jersi pemain, tetapi aktif mengenalkan ekosistem nontunai. Misalnya, pengunjung dapat mencoba pembukaan rekening digital, mengenal JakOne Mobile, hingga melakukan transaksi menggunakan QRIS di tenant yang bekerja sama.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi untuk mendekatkan merek ke kelompok masyarakat yang adaptif terhadap teknologi. “Kami ingin membangun interaksi yang lebih inklusif. Kompetisi IBL 2026 menjadi ruang yang sangat pas untuk mengenalkan inovasi digital kami kepada generasi muda yang aktif,” katanya.
Hasil Nyata dari Sebuah Transformasi
Konsistensi memperluas layanan digital itu turut mendapat pengakuan dari berbagai lembaga independen. Sepanjang paruh pertama 2026, Bank Jakarta meraih sejumlah penghargaan di bidang kepuasan nasabah, manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan.
Pencapaian tersebut mencerminkan bahwa transformasi digital yang dilakukan tidak hanya mengejar inovasi, tetapi juga dibangun di atas prinsip kehati-hatian dan kualitas layanan. Puncaknya terjadi pada 13 April 2026 di ajang TOP BUMD Awards 2026 Bank Jakarta meraih predikat tertinggi sebagai BPD Bintang 5 (Excellent). Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Agus Haryoto Widodo terpilih sebagai TOP CEO BUMD 2026, sementara Gubernur Pramono Anung dikukuhkan sebagai TOP Pembina BUMD 2026.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo mengatakan perubahan industri perbankan menuntut perusahaan terus beradaptasi. “Ekspektasi terhadap Bank Jakarta semakin hari semakin tinggi. Di tengah lanskap industri perbankan yang berubah sangat cepat, berubah secara konsisten adalah satu-satunya pilihan agar kami bisa terus berkontribusi bagi pembangunan kota,” ungkap Agus.
Pada akhirnya, ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota global bukan semata soal teknologi dan konektivitas. Sebab, sebuah kota belum bisa dikatakan maju jika kemudahan teknologi hanya dinikmati segelintir masyarakat yang bekerja di gedung-gedung pencakar langit, sementara pelaku usaha kecil di gang-gang sempit masih kesulitan bertahan.
Prinsip inklusi inilah yang menjadi arah perubahan dari Bank Jakarta. Ukuran keberhasilan transformasi digital bukanlah banyaknya teknologi yang diluncurkan, melainkan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat. Itulah yang ingin dibangun Bank Jakarta, agar ketika Jakarta melangkah menuju kota global, pelaku usaha seperti Bu Sari hingga generasi muda lainnya ikut tumbuh bersama.**





