Jakarta, Propertytimes.id – Tak bisa dipungkiri, tekanan ekonomi makro akibat fluktuasi nilai tukar rupiah berimbas langsung pada keputusan strategis para pelaku usaha dalam mengelola ruang kerja mereka. Bisa dimaklumi, jika banyak perusahaan kini memilih bersikap realistis dengan memangkas anggaran mereka, salah satunya dengan mulai meninggalkan konsep sewa konvensional jangka panjang dan beralih ke ruang perkantoran yang lebih dinamis.
Co-Founder sekaligus Managing Director Leads Property, Darsono Tan, mengungkapkan bahwa gejolak ekonomi saat ini membuat perusahaan memilih untuk mendesain ulang strategi penempatan kantor mereka. Tingginya biaya operasional memaksa manajemen untuk menahan diri dari rencana ekspansi fisik yang agresif.
“Penyewa menunda keputusan ekspansi dan renovasi kantor karena potensi biaya fitout meningkat dan ketidakpastian ekonomi,” ujar Darsono dalam diskusi eksklusif bertajuk “Tren Kantor Masa Depan & Menyikapi Pelemahan Rupiah: Peluang dan Tantangan” di Halo Space, IDX Building, Jakarta, Kamis (18/6/2026) lalu.
Meski situasi pasar menantang, Darsono melihat ada pergeseran kebutuhan yang justru membuka celah bisnis baru di sektor properti. Pasalnya, efisiensi biaya kini menjadi prioritas utama bagi setiap korporasi dalam memilih ruang kerja.
BACA JUGA: Industri Properti Indonesia Masuk Survival Mode
“Permintaan terhadap flex office, furnished office, co-working, serta gedung grade B yang terawat dan berada di lokasi yang strategis berpotensi meningkat karena efisiensi biaya,” kata Darsono menjelaskan peluang di tengah pasar yang melambat.
Selain faktor penghematan anggaran, kriteria pemilihan gedung juga mengalami perubahan fundamental karena tuntutan global dan kebutuhan pekerja lingkungan. Perusahaan-perusahaan kini jauh lebih selektif dan mengutamakan aspek keberlanjutan.
“Menempati gedung ramah lingkungan dan hemat energi menjadi kebijakan dan permintaan korporasi untuk mendukung program zero karbon,” tutur Darsono.
Menurutnya, perubahan ini juga dipicu oleh dominasi generasi milenial dan Gen Z dalam angkatan kerja saat ini. Karakteristik mereka yang mengutamakan kenyamanan bekerja dan fleksibilitas pada akhirnya ikut mendikte bagaimana ruang dalam sebuah kantor dirancang.
BACA JUGA: Meski Realisasi Belanja Naik, Dana Blokir Masih Jadi Ganjalan Utama Serapan Anggaran Kementerian PKP
Dirinya menambahkan, milenial dan Gen Z ke kantor bukan hanya untuk bekerja tapi juga bersosialisasi, berekreasi, berolahraga, dan bisa bekerja dari mana saja. Selain itu, lokasi kantor yang terletak dekat di kawasan mixed-use lebih menarik dibandingkan dengan pure standalone office building karena para pekerja muda tidak hanya datang untuk bekerja, melainkan juga untuk bersosialisasi, berekreasi, dan berolahraga. “Kawasan mixed-use yang berlokasi di sepanjang jalur MRT dan LRT pun otomatis menjadi pilihan utama karena kemudahan aksesnya,” pungkas Darsono.
Pada akhirnya, sebut Darsono, pergeseran perilaku ini juga berdampak signifikan pada efisiensi penggunaan fasilitas fisik, terutama area parkir kendaraan gedung. Darsono mengungkapkan bahwa fasilitas parkir tidak lagi esensial pada gedung perkantoran karena milenial dan Gen Z lebih memilih transportasi umum dan online ride hailing, sehingga kapasitas parkir dapat dioptimalkan dalam kawasan mixed-use.
Di sisi lain, seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan dan penggunaan kendaraan masa kini, kebutuhan akan lahan parkir yang memiliki fasilitas EV Charging atau pengisian daya kendaraan listrik akan semakin diminati di area perkantoran masa depan.




