Jakarta, Propertytimes.id – Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer melambat pada triwulan III 2025. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tumbuh sebesar 0,84% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,90%.
Perlambatan ini terutama dipicu oleh melesunya kenaikan harga rumah tipe kecil dan menengah. Secara triwulanan (qtq), IHPR tumbuh 0,22%, relatif stabil dibandingkan triwulan II yang sebesar 0,18%. Dari sisi penjualan, kondisi pasar juga belum pulih sepenuhnya. Meski membaik, penjualan unit properti secara tahunan masih terkontraksi sebesar 1,29% (yoy). Kontraksi terdalam terjadi pada rumah tipe besar (-23,00% yoy), sementara rumah tipe kecil justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 14,95% (yoy).
BACA JUGA: Bank Indonesia Pangkas BI-Rate Jadi 5,25 Persen
Secara geografis, tren perlambatan terlihat di 11 dari 18 kota yang disurvei. Surabaya bahkan mencatat penurunan harga tahunan sebesar 0,02%. Di sisi lain, Pontianak dan Yogyakarta justru menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.
Survei ini juga mengungkap bahwa pembiayaan internal developer masih menjadi tulang punggung pengembangan properti (77,67%), sementara KPR tetap menjadi andalan konsumen (74,41%) untuk pembelian rumah. Faktor penghambat utama penjualan properti antara lain kenaikan harga bahan bangunan (19,80%), suku bunga KPR (15,05%), dan kendala perizinan/birokrasi (14,39%).
Pertumbuhan KPR sendiri melambat menjadi 7,39% (yoy) pada triwulan II 2025, mencerminkan dampak dari kebijakan moneter yang masih ketat. Dengan berbagai tantangan tersebut, pemulihan pasar properti residensial diprediksi masih akan berlangsung bertahap dalam beberapa triwulan ke depan.





