Jakarta, Propertytimes.id – Laporan terbaru Colliers Indonesia untuk Kuartal III 2025 mengungkapkan bahwa pengembang ritel di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) kini lebih memfokuskan strategi pada peningkatan kualitas dan renovasi mal yang telah ada, alih-alih membangun pusat perbelanjaan baru. Tren ini dipicu oleh dinamika permintaan dan evolusi perilaku konsumen.
Sepanjang kuartal tersebut, tidak ada penyelesaian proyek mal baru di Jakarta, sehingga total pasokan ruang ritel tetap bertahan di angka 4,9 juta meter persegi. Sementara di wilayah Greater Jakarta, pasokan juga stagnan di sekitar 3,2 juta meter persegi.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menyatakan, “Ke depan, tidak ada mal skala besar baru yang direncanakan di Jakarta. Fokus beralih ke refurbish, renovasi, dan repositioning properti yang ada,” ujar Ferry dalam laporannya, awal November lalu.
Proyeksi Colliers menunjukkan, permintaan ruang ritel tahunan diperkirakan sedikit menurun hingga akhir 2025, sebelum kembali tumbuh rata-rata 3% per tahun pada periode 2025–2028. Di sisi lain, pasokan kumulatif diproyeksikan tumbuh hingga 2% per tahun, dengan tambahan signifikan sekitar 80.000 m² yang akan masuk pada 2026.
Tingkat hunian rata-rata secara keseluruhan tercatat sekitar 74% di Jakarta dan 69% di Greater Jakarta. Mal segmen Premium dan Middle-Upper masih unggul dengan tingkat hunian mendekati 90%, berkat basis tenant yang kuat dan daya tarik bagi pembeli kalangan menengah atas. Sementara mal kelas menengah ke bawah masih bergulat dengan tingkat hunian rata-rata sekitar 60%.
BACA JUGA: Colliers Indonesia: Due Diligence Teknis Jadi Kunci Sukses Investasi Data Center di Jakarta
Sebagai strategi adaptasi, banyak pengembang melakukan penyesuaian bauran tenant. Sejumlah anchor tenant seperti Matahari Department Store di Blok M Plaza dan SEIBU di Pondok Indah Mall mengecilkan luas operasinya untuk diisi oleh merek-merek baru seperti SUKO, zes, dan Sephora. Langkah ini dinilai efektif untuk menyegarkan tenant mix dan meningkatkan traffic pengunjung. “Subdividing ruang anchor tenant menjadi multiple lifestyle dan specialty tenant telah terbukti sebagai strategi adaptasi yang efektif,” tambah laporan Colliers.
Rata-rata tarif sewa di Jakarta pada Kuartal III 2025 mencapai sekitar Rp570.000 per meter persegi per bulan, atau naik 1% secara tahunan. Sementara di Greater Jakarta, rata-ratanya mendekati Rp390.000. Biaya layanan tetap stabil di kisaran Rp160.000 untuk Jakarta dan Rp130.000 untuk Greater Jakarta.
Ke depan, minat retailer asal Asia, khususnya China, untuk masuk pasar ritel Jakarta masih tinggi. Para pemilik mal dituntut untuk dapat menyusun strategi keseimbangan tenant dan zoning agar kehadiran pendatang baru dapat melengkapi tenant existing tanpa menimbulkan kejenuhan pasar.
Hanya ada beberapa proyek baru yang sedang dibangun, seperti K Mall at Menara Jakarta dan Lippo Mall East Side di Jakarta, serta Summarecon Mall Bekasi fase 2 dan Living World PIK 2 di Greater Jakarta, yang dijadwalkan rampung antara 2025 hingga 2028.





