Jakarta, Propertytimes.id. Tak bisa dipungkiri, saat ini Jakarta telah bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Dengan lebih dari 32 juta koneksi seluler yang bahkan melampaui total populasi dan penetrasi media sosial yang masif, ibu kota Indonesia ini menjelma sebagai magnet bagi bisnis e-commerce, fintech, perbankan digital, hingga layanan berbasis cloud.
Alhasil, lonjakan aktivitas digital tersebut melahirkan kebutuhan besar akan pusat data atau data center yang berlokasi dekat dengan pengguna untuk menjamin kecepatan dan keandalan layanan. Namun di balik potensi ekonomi digital yang menjanjikan tersebut, tersimpan tantangan teknis serius yang tidak boleh diabaikan.
Laporan terbaru Colliers Indonesia bertajuk “Technical Due Diligence: A Key Factor in Urban Data Centre Development” menyoroti tiga risiko utama yang dihadapi pengembang data center di Jakarta, yaitu ancaman banjir, rendahnya daya dukung tanah, dan keterbatasan pasokan air terutama untuk fasilitas berskala hiperskalar.
Menurut Colliers Indonesia, ketidakpastian mengenai kelayakan lokasi dan risiko operasional jangka panjang menjadi penghambat utama investasi di sektor ini. Karena itu Colliers menegaskan bahwa pemilihan lokasi bukan semata keputusan bisnis, melainkan keputusan teknis yang membutuhkan evaluasi mendalam dan sistematis.
BACA JUGA: Indonesia Bakal Punya Pusat Data AI Canggih Berteknologi Korea senilai Rp1,1 Triliun
Rahmat Daresa Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia menjelaskan bahwa technical due diligence atau TDD berperan penting dalam mengidentifikasi dan memitigasi risiko sejak tahap awal proyek. TDD bukan sekadar daftar pemeriksaan, melainkan alat strategis untuk membantu pengembang mendefinisikan ruang lingkup proyek secara jelas, menjaga kendali atas waktu dan biaya, serta menghindari potensi pembengkakan anggaran.
Pendekatan TDD dilakukan melalui dua arah, yaitu top-down dan bottom-up. Pendekatan top-down mengacu pada standar global dan nasional seperti ANSI/TIA-942, SNI 8799-1:2023, NFPA-75, ASHRAE, dan panduan Uptime Institute. Sementara pendekatan bottom-up menelaah kondisi spesifik di lapangan, termasuk potensi banjir, kepadatan perkotaan, hingga keterbatasan utilitas dan lahan.
Dalam studi yang dilakukan di Jakarta, Colliers menemukan bahwa faktor paling krusial bagi investor adalah operational criticality, keandalan infrastruktur, serta aspek pemasaran. Aspek-aspek tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sistem penilaian berbobot, di mana lokasi strategis menempati bobot tertinggi, diikuti aspek geoteknis, aksesibilitas transportasi, dan potensi promosi.





