Jakarta, Propertytimes.id – Pasar kondominium atau apartemen di Jakarta mengalami sedikit napas lega pada kuartal III 2025 setelah mencetak penjualan kuartal tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Insight Q3 2025 dari Leads Property Services Indonesia, sebanyak 288 unit yang didominasi segmen kelas menengah atas berhasil terjual pada kuartal ini.
Associate Director Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea menuturkan, akumulasi dari penjualan tersebut, membuat permintaan kumulatif secara keseluruhan meningkat tipis 0,13% menjadi 215.695 unit. “Tingkat penjualan (sales rate) juga mengalami kenaikan 0,1 poin menjadi 83,0%,” ujarnya.
Peningkatan ini, sebut Martin, terjadi di tengah ketiadaan proyek baru yang diluncurkan, sehingga sedikit membantu memperbaiki angka penjualan secara keseluruhan. “Lonjakan penjualan didorong terutama oleh proyek-proyek apartemen kelas atas yang semakin mendekati tahap penyelesaian konstruksi, yang biasanya memicu minat beli konsumen,” jelasnya.

BACA JUGA: Pasar Ritel Jakarta Tampil Resilien, Okupansi Sentuh 90,4% di Tengah Saturasi
Menurut laporan Leads, di sisi pasokan, kondisi pasar tetap statis. Tidak ada proyek kondominium baru yang diluncurkan di sepanjang kuartal III 2025, sehingga total pasokan kumulatif bertahan di angka 259.900 unit. Laporan Leads Property juga menyoroti bahwa ketidakpastian politik dan permintaan yang masih rendah membuat para pengembang tidak percaya diri untuk melanjutkan rencana pembangunan tower berikutnya, dan lebih memilih fokus pada penjualan menara yang masih berjalan.
Sementara, dari sisi harga, kondisi pasar yang masih sulit menyerap permintaan mendorong pengembang untuk mempertahankan level harga guna menarik pembeli. Harga jual rata-rata di kawasan CBD Jakarta hanya tumbuh 0,17% secara kuartalan, menjadi Rp58,0 juta per meter persegi. Sementara itu, harga di kawasan prime justru menunjukkan pertumbuhan lebih baik sebesar 1,89% menjadi Rp48,5 juta per meter persegi, didorong oleh penyesuaian harga di sejumlah proyek mewah.
Leads memproyeksi, insentif tambahan selain PPN, seperti keringanan BPHTB, serta suku bunga KPR yang rendah untuk jangka panjang dapat meningkatkan daya beli dan berpotensi mendongkrak permintaan yang masih lesu. “Di sisi lain, kompetisi dari hunian landed house juga masih menjadi tantangan utama bagi penjualan hunian vertikal saat ini,” pungkas Martin.





