Jakarta, Propertytimes.id – Emiten pengembang properti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) akhirnya buka suara terkait permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai rencana aksi korporasi besar perusahaan.
Mengutip laman berita dari keterbukaan informasi BEI Rabu (18/2), BUVA memantapkan niat untuk meluncurkan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) dengan menerbitkan hingga 50 miliar lembar saham baru.
Menjawab pertanyaan otoritas bursa mengenai latar belakang pemilihan skema ini, manajemen menegaskan bahwa PMHMETD II adalah langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus meminimalkan beban keuangan ketimbang bergantung pada pinjaman perbankan.
Adapun, dana segar yang diincar dari pasar modal ini nantinya akan dialokasikan untuk belanja modal, mulai dari pembelian lahan, pengembangan aset, hingga pengambilalihan perusahaan strategis demi memacu pertumbuhan anorganik perseroan. Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk melunasi kewajiban perseroan maupun entitas anak.
BACA JUGA: Summarecon Lepas Kepemilikan di PT Bukit Permai Properti, Transaksi Capai Rp536 Miliar
Langkah ini diambil setelah BUVA sukses mengeksekusi PMHMETD I pada November 2025 yang meraup dana Rp603 miliar. Kepada bursa, manajemen menjelaskan bahwa dana hasil right issue pertama tersebut telah direalisasikan sebesar Rp416,23 miliar untuk melunasi sisa harga pengambilalihan 99,99% saham PT Bukit Permai Properti (BPP) dari PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development. Transaksi akuisisi BPP tersebut telah dinyatakan efektif sejak 28 November 2025 lalu.
Tak hanya itu, BUVA juga telah menyerap dana PMHMETD I sebesar Rp76,6 miliar untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai guna membiayai pembelian lahan di kawasan elite Pecatu, Bali.
Saat ini, perseroan masih mengantongi sisa dana dari aksi korporasi pertama sebesar Rp107,44 miliar. Terkait urgensi PMHMETD II, manajemen menyatakan tengah mengkaji apakah modal baru ini diperlukan untuk menambah pendanaan proyek di Pecatu dan BPP atau murni untuk peluang ekspansi baru yang muncul seiring dinamika pasar.
Meskipun aksi korporasi ini berpotensi mendilusi pemegang saham hingga maksimal 67,01% bagi mereka yang tidak berpartisipasi, BUVA memastikan bahwa pemegang saham pengendali dan utama tetap berkomitmen penuh untuk mendukung rencana tersebut. Perseroan juga menargetkan likuiditas saham di pasar meningkat dengan target free float sebesar 15% melalui skema ini. Selain itu, BUVA menegaskan seluruh rencana ini telah sesuai dengan ketentuan tata kelola perusahaan yang berlaku.





