Sawangan, Propertytimes.id – Di Balik Bayang-Bayang Jakarta Selatan yang kian sesak, geliat pembangunan perlahan mengalir ke selatan, menuju daerah yang dulu hanya dikenal sebagai titik macet dan jalan sempit— Koridor Sawangan.
Dalam kondisi aktual, kawasan yang dulunya tak masuk radar para pencari rumah elite ini pun mulai bersolek. Jalan aspal mulai dilebarkan, tol baru dibuka, dan para pengembang papan atas mulai merapat. Sekadar menyebut, Ciputra Group, Alam Sutera, Vasanta Group, Candi Golf Group, Duta Putra Group, GNA Group, Premier, Perumnas, ISPI Group, IIDA Group Jepang dan beberapa pengembang mulai mencoba peruntungannya di sini. Menyusul, dua developer besar yang lebih dulu eksis seperti Sinar Mas Land dan Telaga Kahuripan juga mulai bangun dari tidur panjangnya.
“Sawangan dulu kecil jalannya, sekarang dilebarin. Developer besar mulai masuk. Ada mal juga. Infrastruktur dulu selalu ketinggalan, sekarang dibangun terus,” tutur Gregorius Gun Ho, Direktur Utama GNA Group, dengan nada tenang tapi mantap. Di balik kaca jendela ruang kerjanya, tampak hilir mudik kendaraan silih berganti melintas di depan proyek Golden Sawangan, membawa serta optimisme baru bagi kawasan ini.
Gun Ho bukan pemain baru dalam dunia properti. Selama lebih dari 20 tahun berkecimpung di industri properti Indonesia, lebih dari 20 proyek telah dikembangkan pria murah senyum yang juga berprofesi sebagai arsitek tersebut di kawasan Jabodetabek.
Namun untuk kawasan ini, ia justru memilih pendekatan konservatif: membangun perlahan, menyambungkan infrastruktur, menyelesaikan legalitas, dan menunggu waktu yang tepat untuk mendorong penjualan. “Proyek itu bukan masalah cepat-cepatan jualan. Properti itu seperti tangga, diam lama, tapi begitu naik bisa hampir vertikal. Tapi pas diam ya harus bisa tahan napas,” katanya kepada The Pavilion Sawangan, akhir Maret lalu.
Dirinya menyadari bahwa geliat properti tak bisa dipisahkan dari ekonomi makro yang tengah lesu. Pasar mengecil, daya beli turun, sementara pasokan rumah terus bertambah. Tapi di balik itu semua, ia melihat peluang jangka panjang. “Sawangan ini komunitasnya sudah jadi. Penduduknya punya loyalitas untuk tinggal. Walau macet, mereka biasa saja,” ujarnya.
Strategi Gun Ho cukup sederhana namun berlapis: fokus ke pengembangan kawasan, pastikan kualitas infrastruktur dan legalitas beres, lalu bangun bertahap. Golden Sawangan dirancang bukan sekadar perumahan, tapi kawasan terpadu dengan wajah depan untuk komersial. “Kalau sudah hidup, brand-brand akan datang sendiri. Bola salju akan bergulir,” kata Gun Ho sembari menyebut sudah ada 10 unit rumah yang terjual, beberapa bahkan membeli dengan cash keras.
Tak jauh dari proyek GNA Group, berdiri perumahan lain yang membawa sentuhan budaya: Taman Sari Puri Bali yang dikembangkan oleh developer plat merah Wika Realty. Sesuai namanya, kompleks ini mencoba membawa suasana Bali ke jantung Bojongsari, Sawangan. Klaster pertamanya—Puri Bali 1—diluncurkan tahun 2005, rampung satu dekade kemudian, dan ludes 1001 unitnya. Menyusul kemudian Puri Bali 2 Klaster Aruna, proyek anyar yang tak kalah ambisius.
“Orang yang familiar dengan Bali, begitu masuk sini pasti merasa beda,” ujar Abdul Rozaq Gembong, Manager Realty Puri Bali Sawangan, sambil menunjuk unit rumah bergaya tropis dengan ornamen khas Pulau Dewata. Proyek seluas 3,5 hektar ini menyasar pasar kelas menengah atas. Tipe-tipe rumah yang dipasarkan berkisar dari luas tanah 103 hingga 240 meter persegi, dengan harga mulai dari Rp1,2 miliar.
Menurut Abdul Rozaq, yang membuat Puri Bali mencolok bukan hanya desain tematiknya, tapi juga skema promosinya yang agresif. “Cuma bayar 1 juta, sudah bisa proses SP3K. DP kita subsidi. Cicilan bisa ditangguhkan hingga 7 bulan,” bebernya. Dalam kondisi pasar yang penuh tekanan, pendekatan seperti ini jadi pembeda.
Namun, sama seperti GNA Group, Puri Bali pun tidak gegabah. Meski target rampung pada 2026, mereka lebih memilih membangun rumah contoh dan stok secara bertahap. “Rata-rata pakai KPR, tapi harus ada rumah stok untuk menarik minat. Anak muda maunya lihat dulu,” tambahnya.
Selain GNA dan Wika Realty, salah satu pengembang yang telah lama melihat potensi Koridor Sawangan- Parung adalah PT Abdiluhur Kawuloalit, yang berafiliasi dengan IIDA Group dan Perumnas, dengan proyek andalannya Heartfultown Sawangan.
“Kami melihat potensi besar di Koridor Sawangan, terutama dengan rencana pengembangan tol dan aksesibilitas yang semakin baik. Selain itu, demografis kawasan ini sangat sesuai dengan target pasar kami, yakni mereka yang bekerja di Jakarta dan memiliki penghasilan cukup tinggi,” ujar Watanabe Kenichiro, Direktur Representative PT Abdiluhur Kawuloalit kepada The Pavilion Sawangan awal April lalu.
Proyek Heartfultown Sawangan mulai dibangun pada 2019 dengan luas awal 14 hektar, dan rencana pengembangan lebih lanjut hingga mencapai 25 hektar. Hingga saat ini, sekitar 121 unit rumah dua lantai telah terbangun dengan konsep yang mengusung teknologi konstruksi Jepang, yaitu penggunaan Concrete Block yang tahan gempa. Menurut Kenichiro, teknologi ini adalah keunggulan utama dalam membangun hunian yang aman dan tahan lama. “Kami tidak hanya mengadaptasi desain Jepang, tetapi juga mengintegrasikan teknologi konstruksi Jepang yang sudah terbukti berkualitas,” jelasnya.
Tak hanya teknologi konstruksi yang menjadi andalan, Heartfultown Sawangan juga memperkenalkan konsep desain yang mengedepankan kualitas dan kenyamanan. “Kami ingin membangun dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, nama Heartful bukan sekadar branding, melainkan filosofi kami dalam setiap proyek yang kami kerjakan,” tambahnya.
Kenichiro mengungkapkan, ke depan pihaknya berencana untuk meluncurkan hunian satu lantai yang lebih diminati oleh pasar. Dengan harga yang lebih terjangkau, rumah satu lantai ini akan memiliki ukuran bangunan sekitar 30-40 meter persegi dan tetap menggunakan Concrete Block untuk ketahanan yang lebih baik. “Kami ingin memberikan alternatif hunian dengan harga yang lebih kompetitif, namun tetap mengutamakan kualitas dan teknologi yang digunakan,” ujarnya.
Harga rumah di Heartfultown Sawangan saat ini berkisar antara Rp1,05 miliar hingga Rp1,4 miliar untuk tipe 70/90 dan tipe 70/134-142. “Kami ingin memastikan harga yang kami tawarkan tetap terjangkau oleh target pasar, meskipun kami menawarkan kualitas terbaik dalam konstruksi dan desain,” tambah Kenichiro.
Meskipun permintaan tinggi, Kenichiro mengakui adanya tantangan dalam penjualan properti di kawasan ini, terutama terkait dengan kesulitan dalam pengajuan KPR. “Banyak yang berminat, tetapi kendala dalam proses BI Checking menjadi hambatan. Kami berharap hal ini dapat segera teratasi agar lebih banyak orang bisa menikmati hunian berkualitas ini,” kata Kenichiro.
Ke depannya, Heartfultown Sawangan tidak hanya akan menghadirkan hunian, tetapi juga konsep kawasan yang lebih maju. Beberapa pengembangan yang sedang direncanakan meliputi area komrsial dan pengembangan kawasan dengan konsep smart city. Inovasi lain seperti penggunaan panel surya dan sistem PDAM berbasis chip juga sedang diuji coba untuk memastikan keberlanjutan dan efisiensi sumber daya.
Dengan semua keunggulan tersebut, Heartfultown Sawangan menjadi pilihan menarik bagi para pencari hunian yang menginginkan lebih dari sekadar tempat tinggal—melainkan juga investasi jangka panjang yang menguntungkan. Pengembang yang mengedepankan kualitas dan teknologi ini optimis bahwa kawasan Sawangan akan terus berkembang pesat, seiring dengan meningkatnya minat dan kebutuhan properti di wilayah tersebut.





