Jakarta, Propertytimes.id – Sektor hunian vertikal di Jakarta pada kuartal pertama (Q1) 2026 memperlihatkan perubahan trend pembeli. Laporan terbaru Colliers Indonesia yang dirilis awal April 2026 lalu mencatat, sekitar 60 persen penjualan pada periode ini berasal dari apartemen yang telah rampung dibangun (ready stock). Angka ini menunjukkan perubahan sikap konsumen yang kini cenderung memilih produk yang jelas wujudnya dan bisa segera ditempati.
Pergerakan pasar tersebut tidak lepas dari kebijakan Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen sepanjang 2026. Kebijakan ini dinilai memberi kepastian bagi pembeli, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada saat yang sama, komposisi pembeli juga berubah. Pembeli pengguna langsung kini mendominasi, melampaui separuh transaksi sekaligus menggantikan peran investor yang sebelumnya lebih menonjol.
BACA JUGA: Okupansi Apartemen Sewa di Jakarta Turun 13,2%
Dari sisi pasokan, para pengembang memilih mengambil langkah lebih selektif dengan menahan peluncuran proyek baru. Sepanjang kuartal pertama 2026, misalnya. Tercatat hanya ada 192 unit baru yang masuk ke pasar, atau setara dengan 10 persen dari total proyeksi pasokan tahunan. Strategi ini merupakan bagian dari fase penyesuaian pasar di mana pengembang lebih memilih untuk memprioritaskan penyerapan inventori atau stok lama yang masih tersedia guna menjaga stabilitas arus kas.
Adapun, terkait harga, nilai rata-rata apartemen di Jakarta tercatat mencapai Rp36,2 juta per meter persegi. Meskipun pertumbuhan harga cenderung moderat, stabilitas suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) turut berkontribusi pada meningkatnya penggunaan metode pembayaran melalui Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Para pengembang juga gencar menawarkan beragam insentif tambahan, mulai dari potongan harga hingga penyediaan furnitur lengkap, untuk memikat calon pembeli di tengah persaingan pasar yang kompetitif.





