Jakarta, Propertytimes.id – Emiten properti PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) menyampaikan tanggapan resmi atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai perkembangan proyek, kondisi keuangan, dan strategi perusahaan. Penjelasan tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi BEI yang dilansir, Kamis (27/11).
Dalam suratnya, manajemen TRIN merinci progress terkini dari empat proyek utama perusahaan. Proyek Collins Boulevard di Tangerang saat ini fokus pada pembangunan Tower II yang ditargetkan topping off dan selesai pada 2026. Sementara, Holdwell Business Park di Lampung ditargetkan topping off pada Kuartal I 2026.
Untuk proyek Sequoia Hills di Sentul, Bogor, serah terima unit untuk Cluster II dan III ditargetkan mulai pada Kuartal III dan IV 2026, dengan penyelesaian penuh kawasan diproyeksikan pada 2030. Adapun Marc’s Boulevard di Batam sedang dalam tahap finishing dan menargetkan serah terima unit landed house dan shophouse mulai Kuartal I dan II 2026.
Dari sisi penjualan, total nilai pengembangan (GDV) seluruh proyek TRIN mencapai sekitar Rp21,05 triliun. Hingga laporan keuangan 30 September 2025, pendapatan yang telah diakui baru bersumber dari proyek Collins Boulevard sebesar Rp175,3 miliar, dengan sisa pendapatan yang belum diakui dari proyek tersebut diperkirakan sebesar Rp1,3 triliun.
BACA JUGA: Tanggapi Bursa, Triniti Land Tegaskan Tidak Ada Kontrak Baru Signifikan
Perusahaan juga menjelaskan beberapa perubahan signifikan dalam laporan keuangannya. Peningkatan piutang pihak berelasi disebut akibat pemberian pinjaman kepada JO Triniti Sentul untuk pendanaan proyek. Sementara, kenaikan aset tetap disebabkan reklasifikasi bangunan senilai Rp57 miliar yang sebelumnya dicatat sebagai persediaan, karena aset tersebut kini dialihkan untuk mendukung operasional jangka panjang.
TRIN mengaku telah melakukan restrukturisasi utang dengan memindahkan sebagian utang jangka pendek menjadi jangka panjang melalui fasilitas pinjaman dengan Bank Panin. Langkah ini disebut untuk menyesuaikan arus kas dan mengurangi tekanan likuiditas.
Menyikapi akumulasi kerugian yang membayangi kelangsungan usaha, manajemen menyatakan sejumlah langkah mitigasi. Perusahaan menargetkan pertumbuhan marketing revenue sebesar Rp1,8 triliun pada 2025, yang hingga September lalu telah tercapai 53%-nya atau setara Rp946 miliar. Jika target efisiensi dan penjualan tidak tercapai, perusahaan akan meninjau ulang strategi pemasaran dan struktur biaya operasional.
Mengenai rencana aksi korporasi dan masuknya strategic partner, TRIN menyatakan bahwa prosesnya masih dalam pembahasan internal dan terhambat oleh kondisi suspensi saham perusahaan. Perusahaan berjanji akan mengumumkan informasi lebih lanjut secara tepat waktu jika telah ada keputusan final yang dapat diungkapkan kepada publik.
Terakhir, TRIN menjelaskan keterlibatannya dalam pengembangan Proyek Sequoia Hills pasca divestasi anak usahanya, PT Triniti Garam Properti (TGP). Perusahaan menyatakan masih berpartisipasi melalui joint operation (JO) Triniti Sentul bersama PT Sentul Golf Utama. Dalam JO ini, TRIN bertanggung jawab atas penyediaan dana modal kerja dan pengelolaan proyek, yang dananya bersumber dari lembaga keuangan bank. Pendapatan dari JO ini diakui menggunakan metode ekuitas, ditambah dengan pendapatan fee manajemen dan konsultasi teknik.





