Jakarta, Propertytimes.id – Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) untuk triwulan III 2025 mengindikasikan penyaluran kredit baru secara umum masih tumbuh positif. Namun, di sektor properti, angin mulai berhembus pelan. Permintaan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Apartemen (KPA) justru menunjukkan perlambatan.
Laporan Survei Perbankan Triwulan III 2025, diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI), Senin (20/10) menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan KPR/KPA pada triwulan III 2025 tercatat sebesar 48,29%. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini terjadi bersamaan dengan kebijakan penyaluran kredit perbankan yang cenderung lebih berhati-hati, termasuk dalam aspek persyaratan dan agunan.
BACA JUGA: Permintaan Kredit KPR dan KPA Melambat pada Triwulan II 2025
Meski permintaannya melambat, KPR/KPA ternyata masih menjadi primadona. Bank-bank memproyeksikan bahwa produk ini akan tetap menjadi prioritas utama penyaluran kredit konsumsi pada triwulan IV 2025, mengalahkan kredit multiguna dan kredit tanpa agunan.
Dari sisi suku bunga, survei memprediksi sedikit penurunan untuk KPR. Rata-rata suku bunga KPR diprakirakan akan bergerak dari 8,92% di triwulan III menjadi 8,79% pada triwulan IV 2025. Penurunan ini selaras dengan prakiraan kebijakan kredit yang lebih longgar pada triwulan akhir tahun, meski biaya dana secara umum diprediksi masih stabil.
Secara keseluruhan, menurut BI, prospek kredit hingga akhir tahun 2025 tetap optimis dengan pertumbuhan yang terjaga, didorong oleh kondisi ekonomi dan moneter yang baik. Namun, tren di segmen KPR ini patut menjadi perhatian, menandakan dinamika tersendiri di pasar properti dan preferensi masyarakat dalam berutang untuk kepemilikan rumah.





