Keppel (Singapura)
Keppel adalah pemain paling inovatif. Karena lahan di Singapura sangat terbatas, mereka mulai mencoba konsep pusat data terapung dan menggunakan tenaga hidrogen. Keahlian teknik mereka menjadikan fasilitas Keppel sebagai salah satu yang paling tangguh di Asia.
GDS International (Singapura/China)
Setelah sukses besar di China daratan, GDS kini melebarkan sayap ke luar negeri. Mereka fokus mengembangkan kawasan “Sijori” (Singapura, Johor, dan Riau) untuk menampung limpahan data dari Singapura ke wilayah tetangganya, yaitu Malaysia dan Indonesia.

Bridge Data Centres (Singapura)
Sebagai anak usaha Chindata Group, Bridge dikenal sangat cepat dalam membangun fasilitas baru. Mereka menjadi mitra andalan bagi perusahaan-perusahaan yang ingin ekspansi cepat ke pasar Malaysia dan India.
Princeton Digital Group / PDG (Singapura)
PDG sangat agresif dalam membeli dan membangun pusat data di pasar-pasar gemuk seperti Indonesia, India, dan Jepang. Mereka punya misi khusus bernama “GreenFlux” untuk memastikan semua gedung data mereka tidak merusak lingkungan.
BACA JUGA: Tren Lahan Industri Jabodetabek 2026, Logistik dan Data Center Jadi Penopang Utama
NEXTDC (Australia)
NEXTDC adalah pemain premium di Australia. Mereka terkenal karena sangat disiplin soal keandalan sistem (sertifikasi Tier IV) dan penggunaan energi terbarukan. Fasilitas mereka di Sydney dan Melbourne menjadi tulang punggung ekonomi digital Australia.
CDC Canberra Data Centres (Australia)
CDC punya pasar yang sangat spesifik: keamanan tingkat tinggi. Mereka adalah penyedia utama bagi pemerintah dan infrastruktur penting negara yang butuh jaminan keamanan data super ketat.
SUNeVision (Hong Kong)
Bagi perusahaan dunia yang ingin masuk ke pasar China, SUNeVision adalah pintunya. Sebagai penyedia terbesar di Hong Kong, fasilitas mereka yang bernama “Mega-i” menjadi salah satu titik koneksi internet tersibuk di dunia.





