Jakarta, Propertytimes.id – Industri real estat Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset pasar Mordor Intelligence, nilai pasar properti Indonesia diperkirakan mencapai USD 70,37 miliar (sekitar Rp1.188,12 triliun) pada tahun 2026 dan akan terus meroket hingga menyentuh angka USD 93,75 miliar (setara Rp1.582,87 triliun) pada tahun 2031.
Pertumbuhan ini mencerminkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) atau rata-rata pertumbuhan investasi per tahun sebesar 5,91%. Beberapa faktor utama yang menjadi motor penggerak adalah pesatnya urbanisasi, pembangunan infrastruktur besar-besaran, serta pergeseran tren investasi global ke kawasan Asia Tenggara.
Meskipun sektor residensial masih mendominasi pangsa pasar sebesar 68,2% pada tahun 2025, sektor properti logistik tercatat sebagai segmen dengan pertumbuhan tercepat. Permintaan akan gudang modern diprediksi tumbuh 6,49% per tahun hingga 2031.
BACA JUGA: Pasar Penyewaan Alat Konstruksi di Indonesia Diproyeksi Tumbuh Stabil hingga 2038
Fenomena ini didorong oleh ekspansi e-commerce dan strategi “China + 1“, di mana banyak perusahaan manufaktur global merelokasi atau memperluas fasilitas mereka ke Indonesia untuk mendiversifikasi rantai pasok. Hal ini terlihat dari tingkat okupansi gudang di wilayah Jabodetabek yang tetap tinggi meski di tengah fluktuasi ekonomi global.

Efek Domino IKN dan Infrastruktur
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur turut memberikan dampak luas (spillover effect). Investasi tidak hanya terpusat di kawasan inti IKN, tetapi juga memicu lonjakan nilai tanah dan pengembangan kawasan mixed-use di koridor pendukung sepanjang Kalimantan Timur dan Sulawesi.
Selain IKN, proyek infrastruktur strategis seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah meningkatkan nilai properti di sekitar stasiun hingga 20%, yang kemudian melahirkan kota-kota mandiri berbasis TOD (Transit Oriented Development).
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa DKI Jakarta masih memegang pangsa pendapatan terbesar, yakni 39,4%. Namun, Jawa Timur diproyeksikan akan menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi di masa depan, dengan estimasi CAGR mencapai 7,11%.
BACA JUGA: Tren Lahan Industri Jabodetabek 2026, Logistik dan Data Center Jadi Penopang Utama
Harga tanah yang lebih kompetitif dibandingkan Jakarta, akses pelabuhan yang mumpuni, serta berbagai insentif pajak daerah menjadi alasan kuat bagi investor untuk mulai memindahkan modal mereka ke wilayah Jawa bagian timur.
Begitupun, di balik prospek yang cerah, pelaku industri masih dibayangi oleh tantangan biaya pendanaan yang tinggi. Suku bunga pinjaman konstruksi yang berada di kisaran 9-11% serta inflasi harga material bangunan seperti baja dan semen memaksa pengembang untuk lebih efisien.
Banyak pengembang kini mulai beralih ke metode konstruksi modular untuk memangkas waktu pembangunan hingga 20% dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja lapangan yang pembiayaannya terus meningkat seiring migrasi pekerja ke proyek-proyek mega infrastruktur pemerintah.





