Jakarta, Propertytimes.id – Lampu-lampu sorot korosif berpendar temaram, menyapu sudut-sudut ruang dalam sebuah pameran interior di kawasan Jakarta Selatan, akhir Februari lalu. Di salah satu sudut booth terbuka, riuh rendah pengunjung tak lagi berkerumun di depan sofa kulit berharga ratusan juta atau deretan kayu jati yang megah.
Langkah kaki mereka justru terhenti di bidang-bidang dinding yang polos. Di antara sapuan dinding bergaya minimalis hangat yang menenangkan, jemari beberapa pengunjung tampak meraba permukaan dinding, menyentuh bintik-bintik kecil yang selama ini kerap luput dari tampilan yaitu saklar dan stopkontak. Perangkat kelistrikan yang biasanya dianaktirikan sebagai sekedar pelengkap teknis yang kaku.
Namun itu dulu. Saat ini, detail-detail kecil di dalam rumah tersebut mulai mendapat perhatian lebih serius, tak terkecuali saklar dan stopkontak yang selama ini sering dianggap sekadar pelengkap dinding. Bisa dimaklumi, tren perumahan beberapa tahun terakhir memang bergerak ke arah desain yang lebih hangat dan personal. Gaya minimalis yang dulu identik dengan kesan dingin dan kaku perlahan bergeser menuju pendekatan Japandi atau soft minimalism, di mana rumah tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga terasa nyaman untuk ditinggali.
Namun di tengah perhatian besar terhadap warna kucing, pencahayaan, hingga pemilihan sofa, banyak orang justru masih mengabaikan perangkat kelistrikan. Padahal, elemen kecil inilah yang setiap hari disentuh dan digunakan penghuni rumah. Tak heran, dalam desain interior modern, detail seperti saklar dan stopkontak kini ikut dipertimbangkan sebagai bagian dari tampilan ruang.
BACA JUGA: Listrik Aman, Rumah Nyaman, Cara Cerdas Cegah Korsleting dan Kebakaran dari Rumah
Desainer interior Rafaelmiranti Architects, Margaretha Amelia Miranti, mengatakan bahwa perangkat kelistrikan tidak bisa lagi dipilih hanya berdasarkan fungsi. Menurutnya, bentuk saklar yang terlalu menonjol atau tidak sesuai konsep ruang dapat mengganggu keseluruhan tampilan interior. “Oleh karena itu, banyak desainer mulai memilih perangkat dengan desain yang tipis, sederhana, dan mudah menyatu dengan berbagai gaya ruangan,” pumgkasnya pertengehan Maret Lalu.

Hal inilah yang turut menginspirasi Schneider Electric untuk menghadirkan Vivace E, lini saklar dan stopkontak dengan desain ramping tanpa bingkai. Ketebalannya sekitar delapan milimeter sehingga terlihat lebih menyatu dengan permukaan dinding.
Huruf ‘E’ diklaim merepresentasikan Evolution, sekaligus menandai perkembangan perangkat kelistrikan rumah yang kini tidak hanya berfungsi sebagai elemen teknis, tetapi juga bagian dari desain interior modern.
Dari sisi tampilan, perangkat ini tampil lebih ramping dibandingkan model konvensional. Ketebalannya sekitar delapan milimeter dengan desain tanpa bingkai yang membuat tampilannya terlihat rata dengan permukaan dinding. Pendekatan desain seperti ini dinilai lebih mudah masuk ke berbagai gaya interior, mulai dari modern minimalis hingga industrial.
Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia DKI Jakarta, Ariya Sradha, menilai tren desain perangkat kelistrikan memang bergerak ke arah yang lebih sederhana dan adaptif. Menurutnya, elemen-elemen teknis di dalam rumah kini dituntut tidak mengganggu komposisi visual ruang. “Orang ingin semuanya terlihat lebih mulus,” kata Ariya beberapa waktu lalu.
Tak hanya fokus pada desain, Schneider juga mencoba menawarkan pilihan warna yang lebih fleksibel. Vivace E hadir dalam beberapa varian, mulai dari putih, hitam, abu-abu terang, hingga warna emas anggur yang menyasar kebutuhan interior dengan karakter lebih kuat.
Namun pembicaraan mengenai kelistrikan perangkat tentu tidak berhenti pada urusan estetika. Faktor keamanan tetap menjadi perhatian utama, terutama di kawasan perkotaan dengan penggunaan listrik yang semakin tinggi.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menunjukkan sebagian besar kasus kebakaran di ibu kota masih dipicu korsleting listrik. Persoalan ini sering kali berawal instalasi dari maupun perangkat kelistrikan yang kualitasnya tidak memadai.




