Jakarta, Propertytimes.id – Pasar perkantoran di luar Kawasan Pusat Bisnis Jakarta (OCBD) menunjukkan geliat pemulihan sepanjang kuartal II 2025. Setelah mengalami kelesuan pada kuartal sebelumnya, sektor ini berhasil mencatat serapan bersih (net absorption) sebesar 11.643 meter persegi. Demikian laporan terbaru bertajuk Jakarta Office Market Insight Q2 2025, untuk segmen OCBD yang dilansir dari Leads Property Service Indonesia.
Menurut Leads, pemulihan ini sebagian besar didorong oleh aktivitas di Jakarta Barat, yang mulai menarik perpindahan penyewa dari luar kota. Sementara tren konsolidasi dan “flight-to-quality”, yakni kecenderungan perusahaan memilih gedung berkualitas lebih baik saat ini masih terus berlangsung sehingga permintaan terhadap ruang kerja tetap fokus pada efisiensi dan lokasi strategis.
Meski begitu, peningkatan pasokan baru, termasuk selesainya Menara Jakarta di pusat kota, memberi tekanan tersendiri. Akibatnya, tingkat hunian OCBD menurun tipis menjadi 76,1%, turun 0,6 poin persentase dari kuartal sebelumnya. Kesenjangan antara penyerapan dan suplai baru ini mengindikasikan bahwa pasar masih perlu waktu untuk menstabilkan diri.
BACA JUGA: Leads Property: Stabilitas Harga Tak Cukup Dongkrak Permintaan Apartemen Sewa di Jakarta
“Menariknya, pasokan baru yang masuk belum sepenuhnya berhasil mengamankan penyewa pra-komitmen. Ini mencerminkan tantangan tersendiri dalam menarik penyewa di tengah persaingan lokasi dan kualitas,” ujar Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research and Consultancy Leads Property Services Indonesia dalam keterangannya, Senin (28/7) lalu.
Pun begitu dari sisi harga. Martin menyebutkan jika para pemilik gedung tampaknya lebih memilih strategi bertahan. “Tarif sewa rata-rata OCBD masih stabil di angka Rp239.800 per meter persegi per bulan, atau setara dengan USD 14,5, angka yang relatif kompetitif dibanding CBD. Adapun, harga jual ruang perkantoran strata-title juga mengalami sedikit koreksi menjadi Rp31,5 juta per meter persegi (USD 1.908),” pungkasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, OCBD tetap menjadi pilihan rasional bagi perusahaan yang mengincar kombinasi harga, fleksibilitas ruang, dan aksesibilitas transportasi. Dimana, kawasan Jakarta Selatan masih menjadi penguasa pasar dengan porsi 44% dari total pasokan OCBD.
Leads Property memproyeksikan bahwa meski tren hybrid working masih akan membatasi ekspansi ruang besar, namun permintaan akan ruang kantor dengan fasilitas premium dan konektivitas tinggi masih akan terus tumbuh, terutama di lokasi-lokasi yang terhubung dengan jaringan MRT dan LRT.
“Pasar perkantoran OCBD tampaknya memasuki fase konsolidasi, di mana para pemain harus cermat membaca arah permintaan, memperkuat daya tarik bangunan, dan beradaptasi dengan ekspektasi baru penyewa yang semakin selektif,” saran Martin.





