Bali, Propertytimes.id – Sektor properti apartemen di Bali menunjukkan prospek yang menarik di tahun 2025 dengan tren permintaan yang mulai bergeser. Laporan Media Briefing Colliers Q4 2025 menunjukkan bahwa pasar apartemen di Bali pada tahun 2025 memiliki prospek yang menarik dengan total pasokan mencapai 3.200 unit. Pertumbuhan di sektor ini terlihat lebih moderat jika dibandingkan dengan sektor vila, namun permintaan tetap mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2024. Tren kepemilikan saat ini didominasi oleh skema hak sewa atau leasehold dengan periode sewa awal mayoritas berkisar antara 25 hingga 35 tahun.
Ditinjau dari sebaran wilayahnya, pasokan apartemen di Bali terkonsentrasi di area Nusa Dua sebesar 41% dan Canggu sebanyak 25%, diikuti oleh Uluwatu sebesar 16%, Seminyak 9%, Ubud 6%, serta Kuta dan Tabanan yang masing-masing menyumbang 2%. Untuk proyeksi mendatang, pasokan baru diperkirakan akan tetap terfokus pada area Canggu dan Ubud dengan mengusung konsep gaya hidup seperti wellness dan family retreat.

Rerata harga apartemen di Bali saat ini berada di angka Rp50 juta per meter persegi, namun angka tersebut sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan luasan unitnya. Berdasarkan klasifikasi areanya, kawasan Uluwatu mencatatkan harga tertinggi yaitu kisaran di atas Rp70 juta per meter persegi, sementara wilayah lain seperti Nusa Dua, Canggu, Seminyak, dan Ubud memiliki rentang harga yang kompetitif namun tetap menunjukkan tren peningkatan meskipun tidak terlalu signifikan akibat bertambahnya pasokan unit baru.
Selain lokasi, tipe unit juga memengaruhi harga dan minat pasar di mana unit dengan satu kamar tidur atau 1 BR menjadi yang paling laku di Bali, diikuti oleh tipe studio. Berdasarkan konfigurasi unit yang tersedia, tipe 1 BR mendominasi pasar sebesar 52%, kemudian tipe studio sebesar 26%, tipe 2 BR sebesar 21%, dan tipe 3 BR hanya sebesar 1%. Persaingan di pasar apartemen Bali saat ini dirasakan cukup ketat, terutama pada unit-unit yang menyasar segmen kelas menengah.





