Cikarang, Propertytimes.id – Kinerja keuangan emiten properti PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) mengalami lonjakan signifikan sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (20/10), pengembang kawasan modern terpadu Kota Deltamas tersebut membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,65 triliun, yang mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga hampir 3,4 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk., Tondy Suwanto, menjelaskan bahwa motor penggerak utama pertumbuhan ini masih didominasi oleh segmen industri. Penjualan lahan industri menyumbang porsi terbesar senilai Rp2,54 triliun atau mencakup sekitar 96 persen dari total keseluruhan pendapatan usaha perseroan, dengan sektor pusat data (data center) sebagai penyumbang terbesar. Di samping itu, segmen komersial menyumbang Rp44,47 miliar, disusul oleh segmen hunian sebesar Rp30,99 miliar, pendapatan rental Rp15,02 miliar, serta kontribusi dari sektor hotel senilai Rp12,82 miliar.
Kenaikan pendapatan yang masif ini turut mendongkrak perolehan laba kotor perseroan hingga meroket 297 persen, dari semula Rp545 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2025 menjadi Rp1,62 triliun pada periode yang sama tahun 2026, dengan marjin laba kotor tercatat kuat di level 61 persen.
BACA JUGA: Era Graharealty Berencana Go Private dan Delisting dari Bursa
Sejalan dengan tren positif tersebut, laba bersih perseroan ikut melompat 284 persen menjadi Rp1,49 triliun dari sebelumnya Rp525 miliar, dengan marjin laba bersih mencapai 56 persen.
Dari sudut pandang fundamental, posisi keuangan perseroan terpantau sangat solid. Total aset per 30 September 2026 tercatat senilai Rp8,44 triliun atau tumbuh 19 persen dari posisi akhir Desember 2025 yang berada di angka Rp7,12 triliun, yang sebagian besar ditopang oleh lonjakan posisi kas dan setara kas menjadi Rp1,8 triliun.
Menariknya, di tengah ekspansi masif yang berjalan, perseroan tercatat tidak memiliki utang dengan jumlah liabilitas yang terkendali di angka Rp1,13 triliun serta ekuitas bersih yang meningkat 11 persen menjadi Rp7,31 triliun.
Kondisi kas bersih yang sehat ini memperkuat optimisme manajemen dalam mengeksekusi rencana bisnis jangka panjang. Sebelumnya, perseroan juga telah memutuskan untuk merevisi naik target pra-penjualan atau marketing sales tahun 2026 dari Rp2,08 triliun menjadi Rp2,95 triliun atau naik sekitar 42 persen dari target awal.





