CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, menyebut pendekatan ini sebagai strategi intensifikasi aset. Alih-alih terus membeli lahan baru, perusahaan berupaya menggali potensi yang masih tersimpan dalam proyek-proyek yang sudah berjalan. “Kami tidak hanya melakukan ekstensifikasi dengan menambah lahan baru. Yang kami lakukan adalah intensifikasi terhadap aset yang sudah ada,” kata Anthony.
Sebagai contoh, pusat belanja 23 Paskal Shopping Center diperluas hingga 20 persen untuk menampung daftar tunggu tenant yang mencapai dua hingga tiga tahun. Langkah serupa dilakukan pada beberapa properti lain seperti pembaruan fasilitas di hotel Sheraton dan kawasan fX Sudirman di Jakarta. 23 Semarang juga ikut diperluas hingga mencapai sekitar 48 ribu meter persegi. Keputusan ini diambil setelah melihat tingginya minat tenant terhadap kawasan-kawasan tersebut.
Tak hanya itu, pendekatan ini membuat tingkat okupansi pusat belanja yang dikelola Paradise Indonesia relatif tinggi. Rata-rata mencapai sekitar 93 persen. Angka yang menunjukkan bahwa ruang-ruang komersial mereka masih diminati.

Ketahanan perusahaan juga terlihat dari struktur pendapatannya. Berbeda dengan banyak pengembang yang sangat bergantung pada penjualan unit properti, Paradise Indonesia memiliki porsi pendapatan berulang yang cukup besar. Pendapatan dari hotel, pusat belanja, dan pengelolaan properti memberi arus kas yang lebih stabil.
Dengan memaksimalkan apa yang sudah dimiliki, Paradise Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak selalu harus dimulai dari ekspansi lahan, melainkan bisa dibangun dari optimalisasi yang cermat dan strategi pengelolaan aset yang matang.
Direktur INPP Surina mengatakan komposisi pendapatan perusahaan saat ini relatif seimbang antara sektor komersial, perhotelan, dan penjualan properti. Keseimbangan itu menjadi fondasi bagi target pertumbuhan perusahaan pada 2026 yang dipatok sekitar 20 hingga 30 persen. Untuk mendukung rencana tersebut, perusahaan menyiapkan belanja modal sekitar Rp400 miliar. Dana ini sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan dan renovasi aset yang sudah berjalan.
Tak hanya komersial, proyek residensial Antasari Place juga menunjukkan performa penjualan yang cukup solid. Dari 980 unit yang dipasarkan, kini hanya tersisa sekitar 70 unit. Tingginya penyerapan unit bahkan memunculkan rencana pembangunan menara kedua dalam waktu dekat.
Bagi perusahaan, keberhasilan proyek semacam ini tidak hanya diukur dari angka penjualan. Chief Corporate Communication INPP Siti Utami mengatakan bahwa setiap proyek yang dibangun selalu membawa dampak ekonomi yang lebih luas. Sebab, sektor properti menurutnya, memiliki efek berganda terhadap ratusan industri pendukung.
“Di tingkat nasional, sektor ini tercatat memiliki keterkaitan dengan sekitar 174 subsektor industri serta menyerap lebih dari 13 juta tenaga kerja. Karena itu, bagi Paradise Indonesia, pembangunan properti bukan hanya soal bisnis semata. Namun juga menyangkut bagaimana ruang kota terbentuk dan bagaimana aktivitas ekonomi tumbuh di sekitarnya,” beber Siti.
Dari keramaian Beachwalk di Bali hingga proyek baru di Balikpapan, langkah Paradise Indonesia memperlihatkan pola yang cukup konsisten. Mereka tidak selalu mengejar ekspansi lahan yang agresif. Sebaliknya, perusahaan mencoba memaksimalkan apa yang sudah dimiliki yaitu dengan memperluas, memperbarui, dan memberi kehidupan baru pada aset yang telah ada. Pendekatan yang mungkin tampak sederhana, tetapi sejauh ini terbukti menjaga mesin bisnis mereka tetap bergerak.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tahunan yang berakhir pada 31 Desember 2025, INPP mencatatkan pertumbuhan pendapatan neto yang cukup impresif sepanjang tahun 2025, yaitu pendapatan neto sebesar Rp1,74 triliun. Angka ini meningkat sekitar 32,9 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp1,31 triliun.
Di tengah industri properti yang sering kali identik dengan perburuan lahan baru, strategi yang dilakukan Paradise Indonesia justru menghadirkan sebuah paradoks; meski ekspansi lahan dilakukan secara moderat, namun perusahaan ini tetap mampu menjaga pertumbuhannya, bahkan melampui ekspektasi banyak orang.**





