Balikpapan sendiri bukan kota yang asing bagi investor properti. Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir posisinya menjadi semakin strategis. Sejak pembangunan Ibu Kota Nusantara dimulai di Kalimantan Timur, kota ini praktis berfungsi sebagai gerbang utama menuju kawasan ibu kota baru.
Pergerakan individu, logistik, dan investasi melewati kota pelabuhan ini sebelum menuju wilayah IKN. Paradise Indonesia membaca peluang tersebut, namun mereka tidak datang dengan konsep ruko yang berdiri rapat seperti kebanyakan kawasan komersial lain. Inilah alasan mengapa 88 Plaza dirancang sebagai kawasan urban dengan plaza terbuka yang memungkinkan aktivitas publik berlangsung lebih cair.

Direktur PT Mitra Gemilang Mahacipta, anak usaha INPP, Diana Solaiman, mengatakan kawasan itu memang sejak awal dirancang untuk menciptakan aktivitas ekonomi sekaligus pengalaman ruang bagi pengunjung. “Kami ingin menghadirkan kawasan yang bukan hanya produktif secara bisnis, tetapi juga nyaman untuk dikunjungi,” kata Diana dalam keterangannya awal Februari lalu.
Respons pasar terhadap proyek ini ternyata cukup positif. Bahkan sebelum resmi diluncurkan, lebih dari separuh unit ruko yang ditawarkan telah terserap oleh pembeli. Bagi perusahaan, angka tersebut menjadi sinyal bahwa pasar masih menyimpan kepercayaan terhadap brand Paradise Indonesia.
Paradoks Paradise Indonesia
Di balik kesuksesan yang terus dicapai dari waktu ke waktu, sebuah polaritas tampaknya sedang dirajut oleh Paradise Indonesia. Bagaimana tidak, di saat banyak perusahaan properti lain berlomba memperbesar cadangan lahan untuk mengamankan proyek jangka panjang mereka, Paradise Indonesia justru memilih langkah yang lebih hemat dengan memaksimalkan aset yang sudah dimiliki.
Alih-alih agresif berburu lahan baru yang membutuhkan investasi besar dan berisiko tinggi, perusahaan ini mengoptimalkan portofolio eksisting melalui pengembangan ulang, peningkatan nilai properti, serta integrasi fungsi komersial yang lebih produktif. Strategi ini membuat perputaran aset menjadi lebih efisien dan mampu menghasilkan pendapatan berulang tanpa tekanan beban akuisisi lahan yang besar.
Pendekatan tersebut pada akhirnya menciptakan keseimbangan yang menarik, di satu sisi perusahaan terlihat konservatif karena tidak ekspansif dalam land banking, namun di sisi lain justru mampu menjaga kinerja keuangan tetap solid.





