Jakarta, Propertytimes.id – Lanskap pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta terus mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu mal identik sebagai tempat berbelanja dan transaksi ritel, kini fungsinya telah berkembang jauh. Banyak pusat perbelanjaan bertransformasi menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan beragam pengalaman, mulai dari kuliner, hiburan, hingga ruang interaksi sosial bagi masyarakat urban.
Laporan pasar properti triwulan pertama tahun 2026 yang dirilis oleh Colliers Indonesia akhir Mei 2026 lalu menunjukkan, bahwa rata-rata tingkat keterisian atau okupansi mal di Jakarta berada di angka 73 persen. Meski demikian, terdapat ketimpangan performa yang cukup kontras antarkelas pusat perbelanjaan. Sebagai contoh, mal pada segmen premium dan menengah ke atas masih mencatatkan kinerja solid dengan tingkat okupansi mencapai kisaran 90 persen.
Kepala Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa pusat perbelanjaan kelas atas tersebut memiliki daya tahan yang lebih kuat karena tetap menjadi magnet bagi merek-merek internasional serta konsumen dengan daya beli tinggi.
BACA JUGA: Colliers Indonesia: Pasar Ritel Jakarta Fokus pada Renovasi, Mal Baru Masih Terbatas
Menurut Ferry, mal-mal ini sukses memosisikan diri sebagai pusat gaya hidup melalui kurasi penyewa yang ketat, penyelenggaraan berbagai kegiatan, serta penyediaan ruang interaksi sosial yang tidak dapat digantikan oleh platform belanja daring.
Saat ini, sektor makanan dan minuman menjadi salah satu kategori penyewa paling ekspansif, terutama konsep restoran dan gerai minuman yang memadukan kualitas produk dengan ruang bersosialisasi. Tren serupa juga terlihat pada peritel pakaian olahraga yang terus memperluas jaringan toko seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat urban terhadap kesehatan dan kebugaran.
Sebaliknya, tekanan besar kini tengah dihadapi oleh sektor ritel mode atau fesyen. Kehadiran platform belanja daring serta pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah lokal menjadi tantangan serius bagi industri ini.
Dinamika tersebut kian diperkuat oleh perubahan perilaku konsumen dari generasi Z yang mendominasi profil pengunjung mal. Generasi ini cenderung lebih selektif dalam berbelanja, serta lebih mengutamakan aspek pengalaman dan nilai produk yang ditawarkan.
Pergeseran perilaku pasar tersebut memaksa para peritel mengubah taktik. Format toko yang lebih kecil dengan masa sewa lebih pendek kini lebih diminati, terutama di area-area strategis yang memiliki arus lalu lintas pengunjung tinggi.
Di sisi lain, pemilik pusat perbelanjaan juga mulai menahan diri dari pengembangan proyek baru secara agresif. Mereka kini mengalihkan fokus anggaran pada proyek renovasi, peremajaan bangunan, hingga pembuatan fasilitas penunjang seperti area semi-terbuka guna meningkatkan kenyamanan pengunjung. Sebaliknya, mal pada kelas bawah justru menghadapi penyerapan ruang sewa yang lambat serta persaingan yang kian ketat.




