Jakarta, Propertytimes.id – Tren bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memasuki era baru dengan tawaran suku bunga satu digit dari sejumlah bank besar, bahkan dimulai serendah 1,5 persen. Kondisi ini sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen pada bulan lalu. Pelaku industri menilai ini sebagai momentum strategis untuk memacu permintaan KPR sekaligus mengerek penjualan properti yang sempat stagnan.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi salah satu yang paling agresif, menawarkan suku bunga tetap (fixed) 1,5 persen untuk tenor 1 tahun, dilanjutkan dengan skema counter rate, dengan minimal tenor KPR selama tiga tahun. Skema serupa juga ditawarkan untuk tenor lebih panjang—2,75 persen fixed 3 tahun dan 3,5 persen fixed 5 tahun.
Bank Mandiri tak mau ketinggalan. Bank pelat merah ini memasarkan bunga promo serendah 2,60 persen untuk fixed 1 tahun (minimal tenor 5 tahun), serta 3,75 persen untuk fixed 5 tahun dengan tenor minimal 15 tahun. Mandiri juga menyediakan opsi bunga berjenjang, seperti 3,96 persen untuk tiga tahun awal, yang kemudian menyesuaikan dengan tenor lanjutan.
Bank Central Asia (BCA) tetap mengandalkan program bunga tetap yang kompetitif, seperti 7 persen fixed 1 tahun dan 8,5 persen untuk tenor 5 tahun. Meski belum menyentuh level terendah seperti BRI atau Mandiri, BCA mengandalkan kestabilan dan proses pembiayaan yang relatif cepat.
BACA JUGA: BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%
BNI juga menyiapkan strategi agresif, terutama untuk nasabah yang membeli dari pengembang pilihan. Tawaran suku bunga 2,75 persen fixed 1–3 tahun menjadi andalan mereka. Selain itu, BNI menawarkan skema bertahap hingga 8,75 persen untuk tenor hingga 15 tahun.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN), bank spesialis perumahan, menyodorkan bunga mulai 5,99 persen fixed satu tahun. Meski secara nominal lebih tinggi dibanding bank lain, BTN menjangkau segmen yang lebih luas termasuk pembeli rumah subsidi dan menengah ke bawah, dengan tenor panjang hingga 20 tahun.
CIMB Niaga juga turut meramaikan kompetisi bunga rendah dengan promo bunga mulai 2,99 persen efektif per tahun. Kredit KPR dari CIMB tersedia hingga plafon Rp30 miliar dengan tenor maksimal 25 tahun, menyasar pasar menengah atas dan investor.
Diketahui, turunnya suku bunga acuan BI memberikan ruang bagi perbankan untuk menyesuaikan struktur pendanaan dan menurunkan bunga kredit, termasuk KPR. Dalam jangka pendek, ini bisa meningkatkan daya beli masyarakat serta mendorong permintaan sektor properti yang masih lesu.
“Penurunan BI rate menjadi sinyal positif yang ditangkap perbankan untuk merangsang permintaan kredit, termasuk KPR. Ini waktu yang ideal untuk konsumen mengambil keputusan pembelian rumah,” kata seorang analis properti di Jakarta.
Bank Indonesia sendiri optimistis kebijakan pelonggaran moneter akan berkontribusi pada pertumbuhan kredit yang lebih sehat sepanjang 2025. Sektor properti, yang selama ini menjadi indikator ekonomi riil, diharapkan mengalami percepatan pemulihan dengan suku bunga yang semakin terjangkau.
Persaingan Makin Ketat, Nasabah Diuntungkan
Dengan banyaknya pilihan program KPR bunga rendah dari bank-bank besar, konsumen kini memiliki keleluasaan untuk memilih skema yang sesuai dengan kondisi keuangan dan jangka waktu yang diinginkan. Persaingan ini pun menekan biaya-biaya tambahan yang selama ini menjadi beban utama dalam pengajuan KPR, seperti provisi, administrasi, dan penalti keterlambatan.
Misalnya, CIMB Niaga hanya mengenakan provisi 1 persen dan biaya administrasi 0,1 persen dari plafon kredit. Sementara bank lain mulai memberikan diskon atau relaksasi biaya asuransi dan notaris.
Secara umum, suku bunga KPR single digit saat ini memberikan kesempatan bagus bagi masyarakat untuk mengakses pembiayaan perumahan dengan beban cicilan yang lebih ringan. Jika tren penurunan BI rate terus berlanjut, bukan tidak mungkin bunga KPR akan bertahan rendah sepanjang semester kedua 2025.





