Denpasar, Propertytimes.id – Fenomena krisis hunian yang melanda Australia kini berdampak langsung pada pasar properti di Indonesia, khususnya Bali. Lihat saja, dalam waktu hanya enam jam, sebanyak 28 unit properti di sebuah kompleks hunian di Bali habis terjual pada akhir Maret lalu. Seluruh unit tersebut dibeli oleh warga negara Australia yang mencari alternatif investasi di tengah melambungnya harga rumah dan tingginya suku bunga di negara mereka.
Sebagaimana dilansir dari laman news.com.au, tren ini menunjukkan adanya pergeseran kekayaan atau eksodus modal dari Australia ke luar negeri. Matt Cameron, pengembang properti asal Australia yang berbasis di Bali, mengungkapkan bahwa minat warga Australia untuk memiliki hunian di luar negeri meningkat tajam karena sulitnya menjangkau properti yang layak dan terjangkau di pasar domestik mereka.
Menurut Cameron, pembeli saat ini menghadapi situasi di mana mereka tidak lagi bisa memperoleh keuntungan dari investasi properti di Australia seperti sediakala. Ia mencatat bahwa inflasi, biaya hidup yang meningkat, serta kenaikan suku bunga perbankan menjadi faktor utama yang mendorong warga Australia melihat pasar properti internasional sebagai solusi.
BACA : Melirik Kawasan Investasi Properti Paling Diburu WNA di Bali Saat ini
Data penjualan menunjukkan kecepatan transaksi yang signifikan dibandingkan proyek-proyek sebelumnya. Pada proyek terbaru ini, 14 apartemen satu kamar seharga 260.000 dollar AS atau setara Rp4,45 miliar dan 14 vila dengan harga berkisar antara 530.000 dollar AS hingga 640.000 dollar AS (sekitar Rp9,07 miliar hingga Rp10,95 miliar) ludes dalam waktu kurang dari satu hari. Padahal, pada proyek serupa sebelumnya, Cameron memerlukan waktu hingga tiga bulan untuk menjual habis seluruh unit.
Saat ini, tercatat sekitar 1.700 calon pembeli potensial masuk dalam daftar tunggu untuk proyek selanjutnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi di Australia, di mana harga rata-rata rumah di kota-kota besar telah melampaui angka 900.000 dollar AS (Rp15,4 miliar), bahkan mencapai 1,6 juta dollar AS (Rp27,39 miliar) di Sydney.
Cameron menjelaskan bahwa model investasi tradisional yang diajarkan generasi sebelumnya di Australia kini dinilai tidak lagi berjalan efektif. Banyak warga Australia kini lebih memilih untuk membeli properti secara tunai di Bali daripada membebani diri dengan utang hipotek selama 30 tahun untuk properti yang tidak sepenuhnya mereka sukai di Australia.
Selain faktor harga, perbedaan margin keuntungan dan kebijakan pajak menjadi daya tarik utama. Investasi di Bali diprediksi memberikan kenaikan nilai properti sebesar 10 hingga 15 persen dalam dua tahun ke depan. Dari sisi pengembangan, biaya yang lebih rendah di Bali memungkinkan pengembang menjual dengan harga lebih kompetitif namun tetap memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan di Australia.
Para investor umumnya berencana menjadikan properti tersebut sebagai instrumen investasi sewa jangka pendek sekaligus rumah singgah saat berlibur. Fenomena ini sekaligus mempertegas bahwa bagi sebagian warga Australia, membangun kekayaan di luar negeri kini menjadi prioritas untuk menjamin kesejahteraan keluarga di tengah tekanan ekonomi domestik.





