Jakarta, Propertytimes.id – Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kembali memanas mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. Meski tidak berdampak langsung pada penghentian transaksi hunian, situasi ini berpotensi menekan pasar properti Indonesia melalui jalur transmisi ekonomi makro.
Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyatakan bahwa sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makro dan sentimen jangka panjang. Menurutnya, ada empat mekanisme utama yang perlu dicermati, yakni fluktuasi harga minyak, nilai tukar rupiah, biaya konstruksi, serta perilaku investor.
“Eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi yang dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” ujar Ferry Salanto dalam keterangan resminya, Selasa (4/3).
BACA JUGA: Konflik Timur Tengah Memanas, Kejayaan Properti Dubai Terancam Berakhir?
Ia menambahkan bahwa kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan karena mayoritas pembeli rumah kelas menengah masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global turut mengancam proyek gedung bertingkat yang memiliki proporsi material impor tinggi seperti elevator dan sistem HVAC.
Kondisi ini diprediksi membuat pasar memasuki fase wait-and-see, di mana investor dan konsumen cenderung menunda ekspansi maupun pembelian. Ferry menilai segmen apartemen kelas menengah atas dan properti spekulatif menjadi yang paling rentan dalam situasi ini.
Namun, Colliers mencatat bahwa rumah tapak untuk kebutuhan hunian (end-user) tetap relatif resilien karena berbasis kebutuhan dasar. “Selama konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya terhadap sektor properti Indonesia diperkirakan moderat dan temporer,” pungkas Ferry.





