Dubai, Propertytimes.id – Pasar perumahan Dubai mencatat lonjakan harga signifikan yang memicu kekhawatiran bakal terulangnya krisis properti seperti tahun 2008 lalu. Sejumlah proyek ikonik, termasuk menara apartemen bertema film Avatar, disebut-sebut menjadi simbol kenaikan harga yang mencapai 70 persen sejak akhir 2019 lalu.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (12/8), pengembang Alex Zagrebelny saat ini tengah membangun Eywa, menara hunian 21 lantai yang terinspirasi dari pegunungan Hallelujah di film Avatar. Fasilitasnya meliputi piramida seberat 14 ton dari 1.450 kristal dan batu semi mulia di fondasi, serta material anti medan elektromagnetik di kamar tidur. Unit yang telah terjual dibanderol US$2,7 juta (sekitar Rp41,85 miliar) hingga US$7,5 juta (sekitar Rp116,25 miliar).
Kebangkitan pasar ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain pembukaan kembali Dubai pascapandemi, kebijakan visa yang longgar, dan permintaan dari investor Rusia, pengusaha kripto, serta warga India. Tahun ini, pelemahan atas dolar AS (terburuk sejak 1973) memberi pembeli Eropa keuntungan daya beli karena dirham dipatok terhadap dolar.
BACA JUGA: Orang Super Kaya Singapura Serbu Properti Mewah Dubai
Data Jones Lang LaSalle (JLL) menunjukkan harga rumah naik 70 persen sejak 2019. Sementara, Knight Frank melaporkan kuartal II-2025 mencatat rekor 51 ribu transaksi rumah senilai US$73 miliar (Rp1.131,5 triliun), naik 41 persen dibanding tahun lalu.
Namun, prospek pasokan baru justru memicu kewaspadaan. JLL memperkirakan 250 ribu unit rumah akan selesai dalam beberapa tahun ke depan sehingga menambah pasokan hingga 30 persen. “Hampir setiap pekan kami bertemu tiga pengembang baru yang belum pernah kami dengar sebelumnya,” kata Sean McCauley, CEO Devmark dilansir dari sumber Bloomberg. Kenaikan harga lahan juga dikhawatirkan menekan margin.
Sebegai informasi, krisis 2008 masih membekas, ketika proyek “The World” senilai US$13 miliar (Rp201,5 triliun) terhenti akibat utang dan krisis global. Hal ini diperparah dengan adanya penurunan harga minyak pada 2014 yang kembali mengguncang pasar. Terlepas dari hal tersebut, para pelaku industri menilai saat ini pasar lebih sehat karena mayoritas pembeli adalah end-user.
Will McKintosh dari Knight Frank menyebut kurang dari 5 persen pembeli menjual kembali dalam 12 bulan, jauh di bawah 25 persen pada 2008. “Pasar kini lebih banyak dibentuk oleh pembeli sesungguhnya,” ujarnya.
Meski risiko tetap ada, namun sebagian pengembang optimistis. Josef Kleindienst, pengembang proyek Heart of Europe senilai US$6 miliar (Rp93 triliun), yakin permintaan akan bertahan. “Dubai punya kecepatannya sendiri. Pertanyaannya hanya kapan, bukan apakah akan datang,” katanya.





