Jakarta, Propertytimes.id – Pasar hunian ekspatriat di Jakarta mencatat permintaan tinggi pada kuartal II 2025, terutama untuk rumah tapak di kawasan premium seperti Kemang, Cilandak, Cipete, dan Pondok Indah. Namun tingginya permintaan tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai. Akibatnya, banyak ekspatriat harus mencari alternatif di luar kawasan favorit mereka.
Menurut Ferry Salanto dari Colliers Indonesia, rumah tapak dengan kualitas baik di lokasi strategis kini semakin sulit ditemukan. “Sebagian besar sudah dipesan bahkan sebelum unit benar-benar siap huni. Ini menunjukkan betapa ketatnya pasar di segmen tersebut,” ungkapnya dalam media briefing Colliers Indonesia kuartalan pekan lalu.
Keterbatasan lahan menjadi faktor utama minimnya pasokan rumah baru. Sementara, pengembang cenderung memfokuskan proyek residensialnya pada segmen menengah yang dinilai lebih efisien dari sisi lahan dan biaya pengembangan.
BACA JUGA: Melirik Tren Hunian Ekspatriat di Jabodetabek: Harga Sewa dan Permintaan Terus Meningkat
Kondisi ini mendorong banyak penyewa asing mulai mempertimbangkan wilayah sekitar Jakarta yang menawarkan kualitas lingkungan yang mendekati preferensi mereka, dengan harga yang lebih bersaing dan ruang terbuka yang lebih luas.
Menurut Ferry, rumah tapak masih akan menjadi pilihan utama ekspatriat, setidaknya dalam jangka menengah. Oleh karena itu, pengembang yang memiliki landbank di kawasan dengan akses mudah ke pusat kota memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang belum terpenuhi ini.
Sebelumnya dalam riset yang dilakukan Colliers Indonesia mencatat, beberapa wilayah di Jabodetabek menjadi favorit bagi kaum ekspatriat, meliputi kawasan Selatan Jakarta, CBD Jakarta, TB Simatupang, BSD dan Bintaro. Sementara, diluar Jabodetabek adalah Karawang serta Cilegon. Wilayah-wilayah ini dipilih karena aksesibilitas yang baik menuju pusat bisnis, keberadaan sekolah internasional, serta fasilitas publik yang memadai.
Kawasan TB Simatupang, misalnya. Kawasan ini menjadi magnet bagi perusahaan multinasional yang mempekerjakan banyak tenaga kerja asing. Kedekatannya dengan pusat bisnis (CBD) dan banyaknya pilihan sekolah internasional menjadikannya lokasi yang sangat diminati.
Sementara, BSD dan Bintaro menawarkan lingkungan yang mendukung gaya hidup ekspatriat. Keberadaan sekolah internasional seperti German School, Sinar Mas World Academy, Jakarta Nanyang School, dan St. John menambah daya tarik kawasan ini. Adapun, Karawang dan Cilegon dikarenakan pertumbuhan sektor manufaktur yang mampu mendorong peningkatan populasi ekspatriat, terutama dari Jepang, Korea, dan Cina.
Ferry Salanto menuturkan, pertumbuhan komunitas ekspatriat ini didorong oleh beberapa faktor, seperti investasi asing yang terus meningkat di berbagai sektor industri, kebutuhan akan tenaga kerja ahli dari luar negeri serta peningkatan fasilitas dan infrastruktur yang mendukung gaya hidup internasional.





