Jakarta, Propertytimes.id – Proyek MRT Jakarta Fase 2A saat ini memasuki tahap pembangunan yang dinilai paling menantang, terutama di paket CP202 yang mencakup tiga stasiun bawah tanah dan dua terowongan penghubung. PT Adhi Karya (Persero) Tbk, melalui konsorsium Shimizu Adhi Karya Joint Venture (SAJV), menjadi kontraktor pelaksana untuk segmen tersebut.
Paket CP202 meliputi pembangunan Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar, serta dua terowongan bawah tanah dengan kedalaman mencapai 27 meter. Kedalaman ini menjadikan proyek tersebut sebagai pembangunan jalur MRT terdalam di Indonesia hingga saat ini.
Lokasi pekerjaan berada di pusat kota yang padat aktivitas dan infrastruktur. Tantangan utama datang dari kondisi lapangan, antara lain ruas jalan yang sempit, keberadaan Sungai Ciliwung yang memisahkan jalur, jenis tanah lunak, serta posisi proyek di kawasan cagar budaya. Selain itu, desain stasiun juga harus memperhatikan integrasi dengan moda transportasi lain dan pengembangan kawasan berbasis transit (transit-oriented development).
Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/7), untuk mendukung pekerjaan penggalian, Adhi Karya menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) bertipe Earth Pressure Balance (EPB) yang telah mulai beroperasi sejak Mei 2025. Mesin ini memiliki diameter 6,79 meter dan panjang 12 meter, dengan kapasitas pengeboran sekitar 7,5 hingga 8 meter per hari.
Penggalian tahap pertama berlangsung dari Harmoni ke Sawah Besar dan direncanakan selesai pada September 2025. Selanjutnya, pengeboran akan dilanjutkan ke arah Mangga Besar hingga pertengahan 2026. TBM kedua akan mulai beroperasi pada Juli 2025, dengan target penyelesaian seluruh pekerjaan pengeboran pada September 2026 mendatang.
Selain konstruksi terowongan, proyek ini juga mencakup pembangunan stasiun empat lantai di bawah tanah yang akan melayani dua jalur MRT. Struktur ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan mobilitas perkotaan sekaligus menyesuaikan dengan karakter kawasan.





