Rio de Janeiro, Propertytimes.id – Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto untuk pertama kalinya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6-7 Juli 2025, menjadi sorotan utama, terlebih setelah Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS sejak 1 Januari 2025. Bergabungnya Indonesia dengan kelompok kekuatan ekonomi global ini diproyeksikan akan memberikan dorongan signifikan bagi potensi industri properti nasional.
Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia kini memiliki akses yang lebih luas ke pasar investasi dan kemitraan strategis dari negara-negara anggota lainnya seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Ethiopia, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Hal ini akan membuka pintu bagi arus investasi asing langsung (FDI) yang lebih besar ke sektor properti Indonesia. Sebab, ionvestor dari negara-negara BRICS bukan tak mungkin akan tertarik pada proyek-proyek infrastruktur, perumahan, komersial, hingga pariwisata yang tengah berkembang pesat di tanah air.
Dalam KTT BRICS kali ini, para pemimpin membahas isu-isu ekonomi dan keuangan global, yang secara tidak langsung akan memengaruhi iklim investasi secara keseluruhan. KTT yang mengambil tema: “Strengthening Global South Cooperation to a More Inclusive and Sustainable Governance” juga menunjukkan komitmen BRICS untuk membangun kerja sama yang lebih adil dan berkelanjutan, yang tentunya akan menarik bagi investor properti yang mencari stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Presiden Prabowo Subianto, dalam perannya sebagai “bridge-builder” dan perwakilan Global South serta anggota G20, akan memanfaatkan forum BRICS ini untuk memperjuangkan kepentingan nasional di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan keuangan. Ini berarti Indonesia akan lebih aktif dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi, termasuk sektor properti, melalui kemitraan yang lebih erat dengan negara-negara BRICS.
Keterlibatan aktif Indonesia dalam 165 pertemuan BRICS sejak awal 2025, termasuk 20 pertemuan tingkat menteri, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memanfaatkan keanggotaan ini. Kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada skala makro, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang bisnis baru bagi pengembang properti lokal untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan dari negara-negara BRICS. Misalnya, transfer teknologi dan praktik terbaik dalam pembangunan properti berkelanjutan dapat diadopsi, sejalan dengan isu lingkungan dan aksi iklim yang juga dibahas dalam KTT.
Sektor Properti yang Paling Merasakan Dampak Positif
Bergabungnya Indonesia dengan BRICS diperkirakan akan memberikan dampak positif yang menyeluruh pada industri properti. Namun, beberapa sektor diprediksi akan merasakan manfaat paling besar, diantaranya;
Properti Industri dan Logistik: Dengan potensi peningkatan perdagangan dan investasi antar negara BRICS, kebutuhan akan gudang modern, pusat distribusi, dan kawasan industri akan melonjak. Lokasi strategis Indonesia sebagai jalur perdagangan global akan semakin menarik minat investor untuk mengembangkan infrastruktur logistik dan manufaktur.
Properti Komersial (Perkantoran dan Retail): Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh investasi BRICS akan memicu ekspansi perusahaan, baik domestik maupun asing. Hal ini akan meningkatkan permintaan akan ruang perkantoran yang modern di kota-kota besar. Seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat, sektor retail juga akan tumbuh, mendorong pengembangan pusat perbelanjaan dan area komersial lainnya.
Properti Hunian (Apartemen dan Perumahan Menengah ke Atas): Peningkatan investasi dan ekspansi bisnis akan menarik lebih banyak ekspatriat dan profesional untuk bekerja di Indonesia, mendorong permintaan akan hunian sewa berkualitas tinggi, terutama apartemen di pusat kota. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, memicu permintaan akan perumahan menengah ke atas.
Properti Pariwisata dan Hospitality: Negara-negara BRICS, terutama Tiongkok dan India, adalah sumber wisatawan terbesar di dunia. Keanggotaan Indonesia di BRICS dapat meningkatkan konektivitas dan promosi pariwisata, sehingga mendorong investasi pada hotel, resor, dan fasilitas pariwisata lainnya di destinasi-destinasi unggulan Indonesia.
Properti Berkelanjutan dan Berteknologi Tinggi: Mengingat pembahasan isu Artificial Intelligence, lingkungan, dan aksi iklim dalam KTT BRICS kali ini, ada potensi besar bagi investasi dalam properti yang mengusung konsep ramah lingkungan, efisiensi energi, dan teknologi pintar. Ini bisa mencakup bangunan hijau, smart cities, dan pengembangan properti berbasis teknologi.
Secara keseluruhan, keanggotaan Indonesia di BRICS, yang ditandai dengan partisipasi perdana Presiden Prabowo di KTT Rio de Janeiro, menempatkan industri properti Indonesia di ambang era baru pertumbuhan dan investasi. Dengan pasar domestik yang besar dan kebutuhan akan infrastruktur yang terus meningkat, Indonesia menjadi tujuan investasi yang semakin menarik di mata para pemangku kepentingan global.





